Fenomena El Nino Godzilla, BMKG Sebut Curah Hujan di Timika Bakal Menurun
Papua60detik - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pusat memprediksi fenomena El Nino Godzilla akan terjadii April hingga Agustus. El Nino Godzilla disebut berpotensi menyebabkan penurunan curah hujan di berbagai daerah.
Forecaster BMKG Mimika, Steven, menjelaskan, dengan fenomena tersebut, Indonesia secara umum akan memasuki musim kemarau. Namun, kondisi di Timika memiliki karakteristik berbeda dengan wilayah lain karena memiliki faktor lokal kuat.
Baca Juga: John NR Gobai Desak Kementerian PUPR Tangani Kerusakan Jalan Trans KM 139-141 Nabire-Paniai
Ia mengatakan, di Timika sendiri, puncak musim hujan biasanya terjadi pada bulan Juni hingga Agustus. Tetapi dengan El Nino, curah hujan diperkirakan akan menurun. Biasanya curah hujan bisa mencapai sekitar 1.000 mm per bulan, saat El Nino bisa turun hingga sekitar 500 mm, bahkan lebih rendah.
"Kalau di Timika, karena faktor lokalnya cukup kuat, tetap masih akan ada hujan, tetapi dia curah hujannya hanya jadi lebih kecil saja. El Nino di Timika berpengaruh tetapi tidak terlalu signifikan," ujar Steven saat diwawancarai, Rabu (25/03/2026).
Penurunan curah hujan terjadi karena massa uap air tertarik ke wilayah Samudera Pasifik bagian timur, sehingga wilayah Indonesia, termasuk Timika, mengalami kondisi lebih kering. Berbeda dengan daerah lain yang berpotensi mengalami panas ekstrem dan kekeringan parah.
"Cuman kalau El Nino terjadi, biasanya karena curah hujannya kurang, bisa menyebabkan air tanahnya juga berkurang. Misalnya beberapa tahun yang lalu kan waktu El Nino juga, masyarakat mengeluh karena di Timika rata-rata masyarakat pakai air tanah. Itu akan terdampak juga biasanya," terangnya.
Berkurangnya air tanah, juga akan berdampak pada sektor pertanian. Steven mengimbau, petani sebaiknya menanam tanaman yang tidak terlalu membutuhkan air, misalnya jagung.
Sama halnya di sektor pertambangan. Meskipun tidak dijelaskan secara rinci, Steven mengatakan di wilayah Tembagapura, penurunan air tanah dan aliran air di kali sungai dapat mempengaruhi aktivitas pertambangan.
"Kalau di Tembagapura, pasti akan berpengaruh ke aktivitas karena mereka menggunakan air di kali. Biasanya kalau El Nino, kali itu jadi menyusut, airnya berkurang. Sehingga tidak tahu mungkin produksinya yang jadi lambat ya atau apa, tapi terpengaruh juga," pungkasnya. (Martha)