Dinas Pendidikan, Dinkes Nabire & UNICEF Kolaborasi Integrasikan Edukasi Malaria di Sekolah
Dinas Pendidikan, Dinkes Nabire, UNICEF Kolaborasi Integrasikan Edukasi Malaria di Sekolah, foto: Istimewa
Dinas Pendidikan, Dinkes Nabire, UNICEF Kolaborasi Integrasikan Edukasi Malaria di Sekolah, foto: Istimewa

Papua60detik - Dinas Pendidikan bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire dan UNICEF menyusun skema pembelajaran malaria yang akan diintegrasikan ke dalam mata pelajaran di seluruh jenjang pendidikan sebagai upaya menekan tingginya kasus malaria di kalangan usia sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire, Dina Pidjer, mengatakan langkah tersebut diambil setelah data Dinas Kesehatan menunjukkan sekitar 900 kasus malaria terjadi pada anak usia sekolah. 

Menurutnya, perlindungan dan edukasi kepada peserta didik perlu dilakukan secara formal melalui integrasi materi malaria dalam proses pembelajaran. Ia menyebut, Dinas Pendidikan akan menyiapkan muatan lokal kesehatan secara bertahap yang mencakup materi HIV/AIDS, TB, dan malaria.

"Untuk tahap pertama satuan pendidikan seluruh Nabire akan menerapkan integrasi pembelajaran malaria dalam mata pelajaran yang sudah disepakati oleh tim perumus yang terdiri dari Kasie kurikulum masing-masing jenjang, ketua MKKS, Ketua K3S dan Ketua IGTKI Kabupaten Nabire pada 22 juni 2026" ucap Dina

Ia menjelaskan, Dinas Pendidikan akan menginstruksikan seluruh satuan pendidikan, mulai dari TK hingga SMA/SMK, untuk menerapkan pembelajaran malaria terintegrasi mulai tahun ajaran 2026/2027. Materi dan buku panduan telah disiapkan oleh Dinas Kesehatan sebagai pendukung pelaksanaan program tersebut.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire, Elvina Agustina, didampingi Kepala Seksi P2M Alfred Lambey, mengungkapkan bahwa sepanjang Januari hingga Juni 2026 tercatat 4.060 kasus positif malaria di Kabupaten Nabire, dengan sekitar 900 kasus terjadi pada usia sekolah.

Menurut Elvina, malaria tidak boleh dianggap sebagai penyakit biasa. Bahayanya bisa keguguran, pembengkakan Limpa  bahkan bisa menyerang otak pasien. Oleh karena itu edukasi malaria perlu diberikan secara berkelanjutan.

"Edukasi formal dari pembelajaran sekolah yang terintegerasi malaria sangat penting, siswa akan terdukasi, bahwa malaria bisa menurunkan kognitif mereka jika terpapar malari" terangnya. 

Sementara itu, Health Officer UNICEF Wilayah Papua, Iswahyudi, mengapresiasi kolaborasi Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan, dalam memperkuat perlindungan anak melalui integrasi edukasi malaria di sekolah. Eliminasi malaria tidak dapat dicapai hanya oleh sektor kesehatan. 

Iswahyudi menjelaskan, berbagai penelitian menunjukkan malaria masih menjadi salah satu penyebab utama terganggunya kesehatan dan kualitas belajar anak. Infeksi malaria yang berulang dapat menyebabkan anemia, menurunkan kemampuan kognitif, mengganggu konsentrasi, meningkatkan angka ketidakhadiran di sekolah, hingga menurunkan prestasi belajar. 

"Bahkan pada kasus berat, malaria dapat menyebabkan komplikasi serius hingga kematian. Kami berkomitmen untuk terus mendukung Pemerintah Kabupaten Nabire dalam memperkuat upaya promotif dan preventif menuju eliminasi malaria" pungkasnya. (Martha)