Keuskupan Timika Lokakarya Susun Strategi Bangun Pendidikan
Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, saat memberikan sambutan, foto: screenshot Youtube
Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, saat memberikan sambutan, foto: screenshot Youtube

Papua60detik - Keuskupan Timika, Papua Tengah lokakarya pendidikan dasar dan menengah untuk memperkuat sinergi dalam membangun kembali pendidikan katolik di Tanah Papua, menemukan terobosan di tengah krisis.

Lokakarya ini berlangsung selama tiga hari, mulai 14 April. Pesertanya para pastor paroki di Keuskupan Timika, Pengurus YPPK Tillemans se-Tanah Papua, pimpinan tarekat religius, serta lembaga-lembaga mitra. Hadir juga secara online para orang tua, praktisi dan pemerhati pendidikan di Tanah Papua. 

Uskup Keuskupan Timika, Mgr Bernardus Bofitwos Baru, OSA mengatakan pengembangan pendidikan bukan hanya menjadi tanggung jawab satu pihak, melainkan sinergi bersama antara keuskupan, yayasan, sekolah, para pastor, masyarakat, pemerintah daerah, hingga pihak swasta seperti PT Freeport Indonesia (PTFI).

Menurutnya, berbagai persoalan pendidikan telah berhasil diidentifikasi selama lokakarya berlangsung. Bahkan, sejumlah langkah strategis telah dirumuskan oleh peserta dan tim ahli. Tantangan berikutnya adalah bagaimana menjalankan hasil tersebut dalam tindakan nyata di lapangan.

"Tinggal langkah-langkah kongkret bagaimana kita berdiskusi, bersinergi, bekerja bersama-sama agar tumbuh api yang kita canangkan ini, tetap menyala dan menghasilkan buah berlimpah di dunia pendidikan bagi generasi masa depan," ujar Uskup saat menutup kegiatan lokakarya, Jumat (17/04/2026). 

Ia mengapresiasi semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan lokakarya tersebut. Serta menekankan bahwa lokakarya ini menjadi ruang perjumpaan dan pertukaran gagasan antar pemangku kepentingan. 

Pengalaman di lapangan, ide, dan konsep yang dibagikan, diharapkan mampu memperkuat arah kebijakan Yayasan Pendidikan Persekolahan Katolik (YPPK) di Keuskupan Timika. 

"Tim ahli telah memberikan rumusan yang membantu kami untuk menentukan langkah-langkai ke depan perwujudan pengembangan pendidikan di keuskupan Timika ini. Saya berharap lokakarya tiga hari ini dapat menghasilkan sejumlah inspirasi gagasan baru ke depan dengan kerja sama dan membangun jejaring," terangnya. 

Sementara itu, Romo Kuntoro Adi menjelaskan bahwa sejumlah persoalan pendidikan di Papua menjadi sorotan dalam diskusi para peserta lokakarya. Masalah tersebut antara lain masih banyak anak usia sekolah yang belum mendapatkan akses pendidikan, kondisi gizi yang buruk, serta rendahnya kemampuan literasi dan numerasi. 

Selain itu, proses pembelajaran dinilai belum konstektual, krisis guru yang berkualitas dan berdedikasi, ancaman konflik hingga keterbatasan dana.

Berdasarkan peta jalan yang disusun, berbagai persoalan tersebut kemudian dikelompokkan ke dalam empat fokus utama, yaitu penguatan tata kelola yayasan, substansi pendidikan, pembinaan guru, dan pendanaan. 

Senior Vice President Sustainable Development PTFI, Nathan Kum, menyatakan komitmennya untuk terus mendukung peningkatan kualitas pendidikan di wilayah Mimika, khususnya melalui kerja sama yang telah terjalin selamaini dengan Keuskupan Timika.

Menurutnya, loka karya ini menjadi sangat penting untuk meningkatkan pendidkan terhadap masyarakat di Mimika, khususnya dua suku utama, Amungme dan Kamoro, serta suku-suku kerabat lainnya dan masyarakat Papua secara umum. Dan juga untuk anak-anak yang sekolah melalui Yayasan keuskupan Timika.

“Kami harap dengan adanya lokal karya ini ke depan akan lebih baik lagi, lebih khusus untuk pendidikan. Karena kita juga selama ini sudah kerjasama dengan Kesekupan dan sampai hari ini dan seterusnya juga kita terus kerjasama," pungkasnya. (Martha)