Mimika 'Panen' Kasus Malaria Sampai 112 Ribu Setahun
Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Mimika, Reynold Ubra. Foto: Martha/Papua60detik
Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Mimika, Reynold Ubra. Foto: Martha/Papua60detik

Papua60detik - Temuan kasus malaria di Kabupaten Mimika belum juga menunjukkan kecenderungan menurun. 

"Dalam setahun kita bisa menghasilkan kasus malaria 112 ribu kasus pertahun. Tapi 70 persen di dalamnya adalah kambuhan," kata Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Mimika, Reynold Ubra, Rabu (08/05/2024).

Malaria kambuhan ini adalah jenis vivax atau tertiana. Malaria kambuhan terjadi karena pasien tak menghabiskan obat. Berdasarkan hasil survey kata Reynold, pasien malaria berhenti minum obat primakuin (berwarna coklat) pada hari kelima sampai tujuh. Situasi ini terutama terjadi di wilayah kota.

Hasil analisa Dinkes juga menunjukkan dari semua pasien hanya lima persen yang melakukan pemeriksaan ulang untuk memastikan tubuhnya bebas parasit malaria. Tenaga kesehatan seharusnya memastikan setiap pasien sembuh dengan memantau dan bekerja sama dengan si pasien. 

Menuju eliminasi malaria, Dinkes pakai pendekatan topografi: pegunungan, kota dan pesisir. Di wilayah pegunungan Dinkes fokus pada survei imigrasi orang masuk. Alasannya, sebagian besar temuan kasus malaria di wilayah pegunungan terjangkit di luar. 

"Sedangkan di wilayah kota konsentrasi kami adalah mengkawal kepatuhan terhadap standar pemeriksaan," kata Reynold.

Sementara di pesisir, penanganan malaria fokus pada pengendalian vektor, kepatuhan pengobatan dan kesembuhan. 

Saat ini kejadian malaria di Mimika masih di angka 300 per 1000 penduduk. Sementara untuk mencapai eliminasi angkanya harus ditekan sampai di bawah 1 per 1000 penduduk.

Padahal dalam penanganan malaria, Dinkes tak bekerja sendiri, juga melibatkan  YPMAK dan CHD PT Freeport Indonesia. Kolaborasi tiga institusi ini pasang target, Mimika bebas malaria 2026. (Martha)