Misa Akhir Tahun, Uskup Timika Soroti Situasi Kemanusiaan di Papua
Papua60detik - Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, dalam kotbahnya pada perayaan misa akhir tahun, Rabu (31/12/2025) menyoroti secara mendalam situasi kemanusiaan yang masih dialami orang Papua hingga hari ini.
Ia mengatakan hingga akhir tahun ini, Papua masih menyimpan memoria passionis atau memori penderitaan yang panjang akibat kekerasan militer terhadap orang Papua selama terintegrasi dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bahkan, situasi yang sudah lama ini menimbulkan trauma apabila berkaitan dengan kehadiran militer, operasi keamanan, Daerah Operasi Militer (DOM),
Baca Juga: Pelajar Siriwo Nabire Natal Bersama
"Memori pahit ini ada sejak kita kecil sampai kita dewasa sekarang ini, karena itu sangatlah wajar kalau orang Papua mudah sekali emosi, tersinggung, marah kalau melihat saudara-saudara kita memegang senjata dan memakai baju loreng," ujarnya.
Ia juga menyinggung kondisi orang Papua yang hingga kini masih mengungsi di wilayah pegunungan, seperti dari Nduga hingga Intan Jaya, serta di daerah Maybrat dan Bintuni. Menurutnya, ini menjadi pekerjaan rumah besar yang belum terselesaikan di Tanah Papua.
"Pertanyaannya memoria pahit seperti ini kapan berakhir? Kapan selesai? Supaya ada memoria kasih, memoria yang indah menghapus kesedihan, amarah, kekecewaan," tambahnya.
Di kesempatan yang sama, Uskup juga mengingatkan umat untuk menghargai waktu dan menjauhi sikap-sikap yang disebut sebagai anti-Kristus. Ia menjelaskan bahwa anti-Kristus bukan hanya persoalan iman, tetapi juga perbuatan dalam hidup sehari-hari.
Ia mengkritik kebijakan pemerintah yaitu PSN yang merusak hutan adat di Papua dan lingkungan hidup mengatasnamakan pembangunan nasional, namun tidak membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Uskup pun menegaskan, penyalahgunaan kekuasaan, perampasan hak rakyat kecil, dan penggunaan seluruh komponen negara demi kepentingan tertentu merupakan wujud nyata sikap anti-Kristus.
"Anti Kristus adalah yang melaksanakan kebijakan PSN tetapi isinya adalah kepentingan perutnya. Anti Kristus adalah mereka yang babat habis hutan adat, hutan di seluruh indonesia ini dibabat habis demi pembangunan nasional tetapi tujuannya bukan untuk rakyat," tegasnya.
Mengakhiri khotbahnya, Uskup mengajak umat untuk merenungkan perjalanan selama tahun 2025, dan berkomitmen di tahun 2026 mengikuti terang Kristus sebagaimana diwartakan dalam Injil Yohanes, mewujudkan kebenaran dalam kehidupan nyata.
"Di tahun 2026 nanti, mari kita mengisi kegiatan-kegaitan yang lebih bermakna memiliki nilai cinta kasih, keadilan, kemanusiaan, keutuhan alam, agar kita mengalami sukacita," tutupnya. (Martha)