Pastor Adrian Soroti Kesenjangan Sekolah Negeri dan Swasta
Papua60detik - Pada kunjungan Bupati dan Wakil Bupati Mimika ke Koukonao Distrik Mimika Barat, Senin, 29 Desember 2025 lalu, masyarakat menyampaikan berbagai aspirasi.
Salah satunya adalah tentang kesenjangan di sekolah negeri dan swasta. Hal itu disampaikan oleh Pastor Adrian yang melayani di berbagai stasi di wilayah tersebut. Dalam penjelasannya, pastor mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi sekolah yayasan yang dinilai kurang mendapat perhatian pemerintah dibandingkan sekolah negeri.
"Saya selalu keliling ke stasi-stasi dan melihat bangunan sekolah negeri itu selalu luar biasa, entah gedungnya atau gurunya. Meski gurunya sudah banyak, pasti ditambah lagi. Sekolah yayasan yang ada di stasi ini hampir tidak pernah tersentuh. Guru-gurunya juga sangat memprihatinkan," terangnya.
Pastor mengaku kurang memahami peraturan pemerintah terhadap pendidikan. Namun, dengan kedatangan pemerintah di Kokonao, ia berharap ke depan memberikan perhatian sama terhadap semua lembaga pendidikan, tanpa membedakan status negeri atau swasta
"Minimal tempat guru-gurunya dibuat layak, supaya guru nyaman tinggal di kampung sehingga proses pendidikan bisa berjalan dengan baik dan lancar, karena guru mengajar dan tinggal di kampung, bukan di kota," tambahnya.
Menanggapi keluhan tersebut, Bupati Mimika, Johannes Rettob mengakui bahwa hingga saat ini sekolah-sekolah swasta atau yayasan memang terkesan dianaktirikan dalam hal bantuan pemerintah.
Ia menjelaskan bahwa selama ini bantuan pemerintah lebih banyak difokuskan pada sekolah negeri, sementara sekolah yayasan belum tersentuh. Keluhan serupa juga diterimanya saat melakukan kunjungan kerja ke sejumlah wilayah, termasuk Potowaiburu.
Namun, ia menegaskan bahwa mulai tahun 2026, tidak akan ada lagi perbedaan perlakuan antara sekolah negeri dan sekolah yayasan. Menurutnya, seluruh sekolah memiliki tujuan yang sama, yakni mendidik anak-anak Mimika.
"Saya kira itu tidak ada masalah lagi. Tahun depan tidak ada aturan yang berbeda. Semua perlakuan sama, karena mengajar untuk anak-anak kita, sekolah dibangun atas untuk anak-anak kita, bukan untuk siapa-siapa. Tidak ada untuk anak negeri untuk anak apa, tidak ada perbedaan," pungkasnya. (Martha)