Stunting Masih Jadi Pesoalan Serius di Mimika
Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Reynold Ubra, foto: Martha/Papua60detik
Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Reynold Ubra, foto: Martha/Papua60detik

Papua60detik- Kabupaten Mimika masih bergelut dengan persoalan stunting. Data Dinas Kesehatan mencatat, tahun 2024 terdapat lebih dari 1.500 kasus. Sementara tahun 2025, berada di kisaran 1.100 hingga 1.200 kasus. 

Kepala Dinas Kesehatan, Reynold Ubra mengatakan angka stunting di Mimika relatif stabil. Ia mengklaim, angkanya di 9  sampai 11 persen, masih di bawah angka nasional 14 persen. Data lain menyebut, prevalensi stunting Mimika di atas 20 persen. 

Melihat banyaknya jumlah kasus, Reynold Ubra mengatakan bahwa stunting bukan semata karena kekurangan gizi, tetapi ada faktor lainnya yang saling berhubungan yaitu penyakit infeksi. 

Di Mimika, penanganan stunting dibagi menjadi dua bagian yaitu isu spesifik dan isu sensitif. Ia menegaskan, bahwa intervensi yang paling dibutuhkan hari ini adalah isu sensitif, seperti air bersih dan rumah layak huni. 

Sementara dari isu spesifik pemerintah melalui dinas kesehatan melakukan pengendalian penyakit rentan pada ibu hamil maupun pada anak, bayi, dan balita termasuk pemberian obat cacing. Untuk remaja putri, melakukan pemeriksaan kesehatan di sekolah, serta pemberian tablet Fe (zat besi). 

Menurut Reynold, pengendalian stunting saat ini bisa didukung dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sementara dari dinas sendiri, Makanan Tambahan (PMT) diberikan berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan, seperti lingkar lengan ibu hamil, status anemia, serta ketidakseimbangan tinggi dan berat badan. 

"Jadi ini tidak bisa jalan masing-masing. MBG bagi saya itu bagus. Kekebalan tubuh anak sekolah itu hanya bisa ditingkatkan jika nilai asupan gizinya cukup. Nah, sekarang yang menjadi persoalan asupan gizinya cukup apa tidak? Jadi kembali lagi ke dalam rumah," ujar Reynold Ubra saat diwawancarai, Senin (03/02/2026). 

Dinas Kesehatan juga akan melibatkan lebih dari seribu kader posyandu yang tersebar di wilayah Mimika hingga kampung dan bergerak bersama Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Mimika untuk pemnanganan terpadu.

Reynold berharap, dengan tema pembangunan Kabupaten Mimika dari kampung ke kota, serta keterlibatan langsung Bupati dan Wakil Bupati sebagai ketua Tim Percepatan Penanganan Stunting, upaya penanganan stunting di Mimika dapat berjalan lebih optimal.

"Yang paling substansial menurut saya adalah negara harus hadir. Pemerintah harus hadir memberikan hak masyarakat terutama remaja putri kemudian ibu hamil dan anak-anak," pungkasnya. (Martha)