Timotius Samin: Legenda Maramowe Mengukir Kayu dan Sejarah Bangsanya
Papua60detik - Di usia yang tak lagi muda, Timotius Samin tetap berdiri tegak sebagai penjaga kebudayaan Mimika Wee/Kamoro suku asli dari Mimika, Papua Tengah.
Pada usia senjanya yang ke-76 tahun, semangatnya justru semakin menyala. Setiap kali diminta berbagi pengetahuan kepada para pelaku UMKM Mimika, ia tampil dengan antusias seolah usia bukan hambatan.
Sebagai Maramowe, sebutan bagi pengukir dalam bahasa Kamoro, Timotius tak pernah sanggup menjauh dari warisan leluhurnya. Kebudayaan yang menurutnya kini berada di ujung tanduk itu menjadi nafas hidupnya.
Hampir setiap malam, ketika sebagian orang telah terlelap, ia masih setia duduk di depan balok kayu melanjutkan ukiran satu demi satu seakan berbicara dengan roh-roh leluhur.
Jejak legenda hidup Kamoro ini bahkan menembus batas dunia. Karya-karyanya telah dipamerkan di berbagai negara, salah satunya di Museum Pusat Universitas Leiden, Belanda.
Ia cerita, perjalanan panjangnya mengangkat budaya Kamoro dimulai ketika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia periode 1993–1998, Wardiman Djojonegoro, ikut menandatangani kesepakatan pembinaan budaya Kamoro melalui PTFI sebagai bapak angkat.
Pada tahun 1992, pembinaan oleh PTFI sebenarnya berjalan baik dan direncanakan hingga 1996, namun kerusuhan membuat program itu terhenti. Tahun 1993, Timotius memutuskan meninggalkan jabatan kepala desa setelah membaca surat kabar tentang orang Asmat yang berangkat ke Amerika. Saat itulah ia berkeinginan untuk mempromosikan budaya Kamoro ke dunia luar.
Perjalanannya semakin jauh. tahun 2003, ia menjejakkan kaki di Belanda dan menemukan sebuah buku ekspedisi museum Leiden yang mencatat bahwa ukiran Kamoro telah diambil sejak tahun 1956 dan disimpan dalam karantina museum.
Tahun 2007 ia tampil di Bulgaria, lalu pada 2010 di Jerman dan bahkan nyaris tersisih oleh dominasi ukiran Bali dan Jepara. Di situ banyak orang mengira ia berasal dari Papua Nugini.
Tahun 2014 ia kembali hadir di Amsterdam dan menerima buku ekspedisi lainnya. Tahun 2015 ia diundang ke Markas Kopassus di Cijantung memimpin 45 peserta.
Tiga tahun berikutnya pada 2018 ia terbang selama 16 jam menuju Swiss dan Jenewa, dan pada tahun 2020 ia bertolak ke Australia.
Atas dedikasinya, Timotius juga kerap dipercaya sebagai narasumber oleh Dinas Koperasi dan UMKM Mimika untuk menjelaskan seni budaya Kamoro kepada masyarakat luas.
Ia mengingatkan generasi muda Kamoro untuk tidak memodifikasi patung-patung sakral, karena bentuk aslinya memiliki nilai keramat dan telah tercatat dalam berbagai penemuan. Patung Mbitoro bahkan dipajang di Universitas Leiden sejak 2003 setelah dibawa oleh utusan dari Belanda. Ia juga menerima penghargaan dari Universitas Indonesia di bidang sosial budaya.
Harapan Timotius sederhana, ingin anak-anak Kamoro tetap menjaga keaslian warisan moyang mereka.
"Saya cinta budaya ini, kita kerja buat ini dengan serius kalau ada kerusakan berarti itu pertanda bahaya," ujarnya kepada papua60detik.id, Rabu (10/12/2025).
Baginya, budaya Kamoro adalah sesuatu yang sakral. Setiap goresan ukiran, setiap ritual dalam pesta adat, semuanya memiliki pesan dan kekuatan. Karena itu, ia selalu menekankan ketelitian dan keseriusan, sebab kerusakan pada karya bukan sekadar cacat, tetapi bisa menjadi pertanda.
Dan di tengah perjalanan panjang hidupnya, Timotius Samin terus mengukir bukan hanya kayu, tetapi sejarah bagi bangsanya. (Eka)