Di Balik Perayaan HAM Sedunia: Keamanan Jadi Barang Mewah di Intan Jaya
Papua60detik - Rabu (10/12/2025), dunia memperingati Hari Hak Asasi Manusia Sedunia ke-77, momen sakral bagi pengakuan hak dan martabat manusia tanpa terkecuali.
Namun, di balik gegap gempita deklarasi universal itu, satu sudut bumi di Tanah Papua, tepatnya Intan Jaya di Papua Tengah, menyimpan cerita pilu yang jauh dari gema kemanusiaan.
Momentum Hari HAM Sedunia ke-77, Anggota DPR Papua Tengah dari Fraksi NasDem, Henes Sondegau justru memilih menyampaikan sebuah refleksi yang tak terbungkus euforia. Suaranya tegas, namun terasa getir. Ia berbicara bukan sebagai politisi semata, tetapi sebagai seorang putra daerah yang menyaksikan sendiri bagaimana tanah kelahirannya terus diguncang gejolak yang seolah tak menemukan reda.
“Keamanan telah menjadi barang mewah,” ujarnya lirih.
Di Intan Jaya, bunyi tembakan bukanlah cerita yang dibaca di koran, itu nyata, terdengar, dan melukai batin banyak keluarga. Konflik berkepanjangan antara aparat keamanan dan kelompok bersenjata telah menempatkan warga sipil dalam posisi paling rapuh. Seolah mereka hidup di antara dua dunia: satu yang menuntut ketertiban, dan satu lagi yang menuntut perlawanan. Yang tertindih di antara keduanya adalah manusia.
Dari konflik itu menjalar luka lain, pengungsian. Warga meninggalkan rumah, kebun, dan masa depan mereka. Ada yang mengungsi ke hutan, ada yang menumpang rumah keluarga di Nabire atau Mimika. Sebagian besar hidup dengan pasrah di tempat-tempat yang tak layak disebut hunian. Anak-anak tumbuh tanpa kepastian, sementara para orang tua menatap hari esok dengan mata penuh tanya.
Krisis pengungsian itu merembet pada lumpuhnya layanan dasar. Sekolah-sekolah di distrik rawan konflik hanya sesekali buka. Guru takut mengajar. Anak-anak lebih akrab dengan suara tembakan daripada suara bel sekolah. Di fasilitas kesehatan, tempat tidur pasien kosong bukan karena masyarakat sehat, tetapi karena nakes tak berani bertugas. Banyak nyawa melayang oleh penyakit yang seharusnya mudah ditangani, hanya karena tidak ada satu pun tenaga medis yang tersisa.
Dan dari semua itu, Henes Sondegau mengajukan serangkaian desakan, Ia meminta negara berhenti sejenak dan bercermin: apakah pendekatan keamanan selama ini sungguh menyelesaikan masalah, atau justru memperpanjang daftar duka?
Ia menyerukan jeda kemanusiaan, sebuah ruang dialog yang tulus, tenang, dan bermartabat, sebelum konflik menelan lebih banyak lagi yang tak bersalah.
Henes Sondegau juga menuntut perhatian serius terhadap pengungsi yang kini hidup dalam ketidakpastian. Mereka bukan angka statistik, mereka manusia dengan nama, keluarga, dan cerita. Termasuk kebutuhan mendesak akan jaminan keamanan bagi guru dan tenaga medis, agar layanan dasar dapat kembali berdiri tegak.
Henes menyadari bahwa suaranya mungkin tak sebesar gemuruh konflik, tapi ia memilih tetap berbicara. “Restorasi Papua dimulai dari memanusiakan manusianya,” ucapnya.
Di Intan Jaya, mungkin masih ada ibu yang berjalan ke kebun sambil menengok ke belakang, memastikan tak ada bahaya yang mengintai. Mungkin ada anak yang rindu duduk di bangku sekolah. Dan mungkin ada keluarga yang berharap bisa kembali ke rumah tanpa takut suara senjata.
Hari HAM Sedunia, bagi mereka, bukanlah perayaan. Ia adalah pengingat bahwa kemanusiaan belum selesai diperjuangkan. Dan selama itu belum terwujud, mereka akan terus menunggu, kepada siapa lagi mereka meminta pelukan jika bukan pada negara sendiri? (Elia Douw)