Di Tangan Mama Yane Nari, Limbah Bisa Jadi Rupiah
Mama Yane Maria Nari dengan kerajinan tangan dari limbah tempurung kelapa. (Foto: Comm. Rel & CSR Pertamina MOR VIII)
Mama Yane Maria Nari dengan kerajinan tangan dari limbah tempurung kelapa. (Foto: Comm. Rel & CSR Pertamina MOR VIII)

Papua60detik - Di tangan seorang kreatif, tak ada yang tak mungkin, bahkan limbah dan sampah pun bisa bernilai.

Seperti yang dikerjakan seorang mama asli Papua, Mama Yane Maria Nari di Jayapura. Di tangan kelompok usahanya, Kobek Millenial Papua, limbah tempurung kelapa bisa jadi usaha kerajinan beromzet jutaan rupiah.

Mama Yane telah lebih dari 20 tahun lalu menekuni kerajinan daur ulang sampah dari limbah kertas dan plastik. Tapi kelompok Kobek Millenial Papua mulai mengolah limbah tempurung kelapa setelah didampingi PT Pertamina.

Bermula dari hasil pemetaan sosial di sekitar wilayah operasi Fuel Terminal Jayapura, Pertamina menemukan sesosok inspiratif, Mama Yane

Dari sinilah, PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region VIII melihat potensi dan bakat yang dimiliki oleh Mama Yane dan anggota kelompoknya dapat diberdayakan membuat produk yang bernilai dari limbah tempurung kelapa.

PT Pertamina kemudian memfasilitasi Mama Yane magang dan belajar dengan pengrajin tempurung kelapa di Yogyakarta pada Mei 2019.

Dari hasil belajar di Yogyakarta itu, kelompok Kobek Millenial Papua akhirnya dapat menghasilkan sejumlah kerajinan, mulai dari lampu hias, peralatan makan dan minum, pernak pernik hiasan rumah tangga, hingga jepit rambut dan anting-anting.

“Satu minggu saya mempelajari seluk beluk tentang kerajinan tempurung kelapa dan setelah itu saya pulang hingga hari ini masih menggeluti kerajinan itu,” kata Mama Yane seperti dalam rilis PT Pertamina Marketing Operation Region VIII, Kamis (17/09/2020).

Pulang dari Yogyakarta, Pertamina membantu kelompok Kobek Millenial Papua dengan membuatkan rumah produksi yang dilengkapi dengan lima unit mesin pembuat kerajinan tempurung kelapa.

Nama kelompok Kobek Millenial Papua menurut Mama Yane, memiliki makna, 'Kobek' berarti kelapa dalam Bahasa Biak. Sementara 'Millenial Papua' dimaknai sebagai era milenial saat ini yang harus dijalani lebih semangat dalam aspek apapun.

Dalam kelompoknya, Mama Yane dibantu lima orang yang terdiri dari sanak keluarganya sendiri.

Harga produk yang dipatok untuk setiap hasil kerajinannya, mulai dari Rp50 ribu hingga Rp2 jutaan. Total omzet atau penjualan dari sejak didampingi Pertamina dari tahun 2019 hingga saat ini telah mencapai puluhan juta rupiah.

Order kerajinan tempurung kelapanya kebanyakan didapat melalui media sosial Facebook, 'Kobek Millenial Papua'. Selain itu, Mama Yane juga menjajakan hasil kerajinannya di pinggir jalan raya perempatan Kelurahan Imbi, Kota Jayapura.

Sebagai sarana promosi, setiap yang membeli kerajinan tempurung kelapa dari kelompok Kobek Millenial Papua akan mendapat kartu nama.

"Agar orang-orang itu bisa mengingat kerajinan yang kami buat,” ujar Mama Yane.

Ia bercerita, kerajinan dari tempurung kelapa tidak membutuhkan modal yang besar. Pembuatannya pun relatif mudah dan ramah lingkungan.

Selama ini, limbah tempurung kelapa didapatkan dari penjual kelapa di Koya, salah satu daerah yang terkenal dengan sentra pertanian dan perkebunan di Kota Jayapura.

Tempurung kelapa yang diambil dibeli dengan harga Rp 1.000 hingga Rp 2.000 per buah. Dari bahan baku limbah tempurung kelapa tersebut, dihasilkan beberapa produk misalnya alat makan dan minum dari tempurung kelapa, yang dijual dengan harga mulai Rp200 ribu hingga Rp350 ribu per set.

Sementara lampu hias dari tempurung kelapa bisa dijual seharga Rp1 juta hingga Rp2 juta, tergantung besar dan kecilnya.

“Lampu-lampu hias ini per satu lampu dibuat dua hari," kata Mama Yane.

Hasil kerja keras Mama Yane akhirnya berbuah manis. Kelompok Kobek Milenial Papua telah mengantongi pemesanan cinderamata untuk kebutuhan PON XX yang akan diselenggarakan tahun 2021 di Papua.

“Pelan-pelan pesanan ini akan kami kerjakan agar para tamu bisa membawa cinderamata hasil karya anak asli Papua,” kata Mama Yane, tersenyum.

Unit Manager Communication, Relations & CSR MOR VIII, Edi Mangun, mengungkapkan apa yang dilakukan PT Pertamina ini merupakan cara memunculkan potensi kemampuan kreativitas masyarakat asli Papua.

Edi mengaku kagum dengan potensi sekaligus konsistensi Mama Yane dalam kerajinan daur ulang sampah. Itu jadi alasan, PT Pertamina mengirim Mama Yane ke Yogyakarta untuk magang dan belajar kepada pengrajin tempurung kelapa di sana.

“Kami bersyukur selama dua tahun kami dampingi, Mama Yane dan kelompoknya merupakan kelompok yang bisa kami kategorikan sebagai kelompok yang berhasil dalam bertahan dan terus maju dalam menghadapi berbagai kondisi bisnis. Beliau terus berinovasi dan melakukan peningkatan produknya untuk mengenalkan pada pasar karena produk kerajinan tempurung kelapa ini baru ada dan satu-satunya di Jayapura," kata Edi.

Ia menjelaskan, program ini juga sebagai upaya pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi. (Burhan)