LMA-Tsingwarop Bergerak Pertahankan Nilai Adat yang Terancam
Foto bersama ketua LMA-Tsingwarop dengan tamu undangan, foto: Martha/Papua60detik
Foto bersama ketua LMA-Tsingwarop dengan tamu undangan, foto: Martha/Papua60detik

Papua60detik - Lembaga Masyarakat Adat Tsinga, Waa/Banti dan Aroanop (LMA-Tsingwarop) gelar sosialisasi penguatan dalam rangka memperkuat lembaga yang yang sudah lama berdiri di tiga kampung, Kamis (04/07/2024).

LMA-Tsingwarop kini dihadapkan dengan berbagai macam ancaman, terutama dalam mempertahankan hak-hak masyarakat adat serta sumber daya alamnya di wilayah pegunungan Kabupaten Mimika. 

Terlebih khusus  ancaman demi ancaman datang di tengah perkembangan zaman, mengakibatkan nilai-nilai adat perlahan tergerus.

Masalah ini membuat kaum intelektual serta para tokoh yang tergabung dalam LMA-Tsingwarop tergerak untuk memberikan perhatian nilai-nilai adat yang mulai terkikis zaman.

Ketua LMA-Tsingwarop, Litinus Niwilingame mengatakan, LMA-Tsingwarop menyiapkan strategi baik secara internal maupun secara eksternal guna menyikapi banyak hal yang terjadi di wilayah tiga kampung atau Tsingwarop.

"Ketika suatu daerah berkembang maka semakin berkembang pula kepentingan perusahaan di tengah perkembangan zaman," ujar Litinus saat diwawancarai usai sosialisasi.

Menurutnya, kelembagaan LMA-Tsingwarop, mengolaborasikan antara kaum intelektual, tokoh pemuda hingga tokoh-tokoh adat untuk melahirkan ide mempertahankan serta menyelamatkan tatanan hidup masyarakat Tsingwarop dari berbagi kepentingan. 

“Kami punya tujuan yang besar, yaitu di tengah-tengah ancaman itu, kami adalah masyarakat adat yang memiliki nilai adat yang berdiri kokoh, eksis dan mempertahankan nilai-nilai adat,” tambahnya.

Ia juga menjelaskan rencana ke depan, pihaknya akan membangun kerja sama dengan semua pihak, baik pemerintah, PT Freeport Indonesia (PTFI) hingga stakeholder-stakeholder lainnya. Dengan harapan semua pihak dapat bekerja sama untuk mempertahankan kearifan lokal di wilayah Tsingwarop. 

“Tidak hanya melihat orientasinya atau uang. Namun, jauh lebih penting adalah  nilai-nilai adat kami perlu dipertahankan di tengah ancaman yang begitu hebat ini,” pungkasnya. (Martha)