Mahasiswa Desak Adili Pelaku Penembakan Warga Sipi di Tragedi Berdarah Puncak
Massa aksi demontrasi di titik kumpul Pasar karang Tumaritis. Foto : Elia Douw/ Papua60detik
Massa aksi demontrasi di titik kumpul Pasar karang Tumaritis. Foto : Elia Douw/ Papua60detik

Papua60detik -  Mahasiswa dan berbagai elemen masyarakat menggelar unjuk rasa di Nabire, Papua Tengah, Senin pagi (27/4/2026). 

Pantauan media ini, unjuk rasa berlangsung di lima titik aksi, seperti siriwini, depan Hotel Adamant, Kali Susu Asrama Puncak Nabire, Karang Mulia, dan Pasar Karang Tumaritus. Demonstrasi ketat oleh gabungan aparat TNI-Polri.

Pengunjuk rasa mendesak Presiden RI Prabowo Subianto segera tarik militer serta mengadili pelaku penembakan dan pembunuhan warga sipil di Kemburu, Kabupaten Puncak. Pengunjuk rasa mencatat 10 warga sipil tewas pada insiden itu. Sebagai catatan, Komnas HAM dan Kementerian HAM catat 15 warga tewas.

Mereka mendesak DPRK Puncak dan DPR Papua Tengah segera bentuk Pansus.  Pemerintah daerah, tuntut mahasiswa, harus memberikan hak-hak dasar pengungsi secara terorganisir.


Seorang mahasiswa Eko Vinsen dalam orasinya menuding tragedi berdarah di Tanah Papua tidak pernah dituntaskan oleh negara secara berkeadilan 

Ia mendesak, pemerintah mengungkap dan mengadili para pelaku pembunuhan di tragedi berdarah itu. Ia meminta, Kementerian HAM serta lembaga independen turun ke lokasi kejadian untuk mengungkap fakta dan kronologi kejadian itu.

"Orang asli Papua OAP bukan binatang yang bisa dipermainkan dan ditembak mati dengan alat Negara, seharusnya aparat menjalankan tugas dan fungsinya sesuai undang-undang," tegasnya. 

Hingga berita ini diterbitkan, massa aksi demontrasi masih berorasi di lima titik aksi seraya menunggu imbauan Korlap umum untuk menuju ke sasaran aksi kantor DPR Papua Tengah

Sebelumbta, Kapen Koops TNI Habema, Letkol Inf Wirya Arthadiguna membantah informasi yang menyebut prajurit TNI menembak anak-anak.

Wirya mengatakan, informasi yang beredar tidak utuh dan mencampuradukkan dua peristiwa berbeda yang terjadi pada 14 April 2026 di lokasi terpisah. 

Peristiwa pertama terjadi di Kampung Kembru. TNI kontak tembak dengan kelompok bersenjata. Empat orang dari kelompok bersenjata dilaporkan tewas. 

Sementara peristiwa kedua terjadi di Kampung Jigiunggi, di mana seorang anak dilaporkan meninggal dunia akibat luka tembak. Wirya mengaku tidak ada keterlibatan prajurit dalam kejadian tersebut. (Elia Douw)