Blood AK: Rapper Muda Timika Berkarya dari Kamar Sempit
Papua60detik - Di tengah narasi Papua yang kerap dipenuhi isu konflik dan kekerasan, sekelompok anak muda di Timika memilih jalur berbeda: berbicara lewat musik.
Dari sebuah kamar kos sempit di Jalan Hasanuddin Ujung, lahirlah Blood AK, grup rap yang menjadikan musik sebagai medium menyuarakan realitas sosial Papua dari sudut pandang anak muda.
Kamar sempit itu menjadi ruang diskusi, tempat berbagi keresahan, sekaligus laboratorium kreatif. Dari sanalah lirik-lirik Blood AK yang jujur, apa adanya dan dekat dengan kehidupan sehari-hari lahir. Mereka membuktikan bahwa keterbatasan ruang dan fasilitas bukan halangan.
Hingga kini, Blood AK telah merilis sekitar 16 lagu yang tersebar di berbagai platform digital seperti YouTube, TikTok, dan Instagram.
Salah satu lagu mereka, “Papteng Zone”, bahkan telah menembus Spotify. Karya-karya mereka tidak sekadar hiburan, tetapi catatan sosial tentang Papua hari ini, tentang kota dolar, ironi kekerasan, hingga kegelisahan anak muda.
Nama Blood AK sendiri merepresentasikan ikatan yang lahir dari ruang sempit itu. Blood berarti darah, sementara AK adalah singkatan dari Anak Kamar. Grup ini beranggotakan enam orang: Sinyo Damaryanan (Bob Sidan), Jondri A.K.A Jondrislick atau Bob J, Geraldhungan, Amsal Malvin Watunwotuk Keliduan A.K.A Bongzo Malvin, Sector 3, dan L.A Biuu.
“Blood artinya darah, AK itu anak-anak kamar. Jadi ini soal persaudaraan. Awalnya kami sering ikut battle rap. Dari situ, yang juara-juara kami kumpulkan jadi satu, menyatu dalam satu otak,” ujar Sector 3.
Rap bagi Blood AK bukan sekadar genre, melainkan alat komunikasi sosial. Lagu “Papteng Zone” menjadi contoh paling kuat. Dengan lirik “Timika kota dolar, malamnya criminal land”, mereka menggambarkan wajah Timika yang kontras: kaya sumber daya, namun menyimpan luka sosial.
“Lagu itu bicara soal situasi yang sering terjadi di sini, seperti pembunuhan dan kekerasan. Kami musisi lokal hanya menyuarakan apa yang kami lihat dan rasakan. Harapannya, Timika cukup dikenal sebagai kota dolar saja, jangan lagi sebagai criminal land,” kata Bob J.
Blood AK berdiri pada 2023, sempat vakum, lalu kembali aktif pada 2025. Mereka menilai, hingga kini Timika masih minim ruang ekspresi bagi musisi rap lokal. Tidak banyak panggung, jam tampil terbatas, dan akses menuju panggung nasional masih jauh. Di tengah kondisi itu, rap menjadi media perlawanan yang sunyi, melawan keterbatasan dan invisibilitas anak muda Papua.
Mereka berharap masyarakat dan pemerintah daerah mulai melihat musik, khususnya hip-hop dan rap, sebagai bagian penting dari ekspresi budaya urban Papua. Dukungan terhadap talenta lokal, menurut mereka, bukan sekadar soal hiburan, tetapi juga ruang aman bagi anak muda untuk menyalurkan suara dan kegelisahan.
Baru-baru ini, Blood AK tampil di Timika Night Run serta pada acara lepas sambut tahun Pemerintah Kabupaten Mimika. Panggung-panggung semacam ini menjadi napas segar bagi musisi lokal yang selama ini bergerak di ruang terbatas.
“Kalau makin banyak event dan kami dilibatkan, itu artinya ada ruang hidup untuk talenta lokal. Supaya kami tidak mati di tempat,” ujar Gerald.
Saat ini, Blood AK tengah menyiapkan beberapa lagu baru yang akan dirilis dalam waktu dekat. Bagi mereka, kunci bertahan bukan popularitas semata, melainkan solidaritas dan keberanian menyuarakan realitas Papua melalui musik. (Martha)