Dari Jarum dan Benang, Bagus Menghidupi Lima Anaknya
Bagus, lebih 15 tahun menekuni profesi jahit sepatu. Foto: Vanny/ Papua60detik
Bagus, lebih 15 tahun menekuni profesi jahit sepatu. Foto: Vanny/ Papua60detik

Papua60detik - Di bawah terik matahari Timika, tepat di depan Lapangan Eks Swadaya Pasar Lama, seorang pria tampak tekun menunduk di balik tumpukan sepatu usang. Tangannya cekatan memainkan jarum dan benang, sesekali berhenti hanya untuk mengelap keringat. Dialah Bagus, pria asal Lamongan, Jawa Timur, yang telah menghabiskan lebih dari separuh hidupnya di tanah Papua.

Bagus pertama kali menginjakkan kaki di Mimika pada awal tahun 2000-an. Datang dengan niat sederhana: mengadu nasib. Tanpa sanak saudara, tanpa modal besar, ia memulai hidup barunya di tanah Amungsa Bumi Kamoro dengan satu bekal utama kemauan bekerja.

Pria berusia 42 tahun itu mengingat betul masa-masa awalnya. Ia sempat berjualan mainan anak-anak, menyasar sekolah-sekolah sebagai ladang rezeki. Namun roda kehidupan membawanya ke profesi lain yang kini melekat erat dengan dirinya: penjahit sepatu dan sandal. Sebuah pekerjaan yang awalnya asing, tetapi perlahan ia pelajari dengan tekun.

“Modal saya cuma satu, belajar dan terus belajar,” ujarnya sambil tersenyum saat ditemui di lapaknya, Kamis (29/1/2026). 

Lebih dari 15 tahun berlalu, lapak kecil Bagus tak pernah berpindah. Setiap pagi, sekitar pukul 09.00 WIT, ia sudah sibuk menata peralatan jahitnya. Jarum, benang, lem, dan sepatu-sepatu dengan beragam kondisi menjadi saksi konsistensinya bertahan di satu titik yang sama.

Meski kerap dipandang sebelah mata sebagai pekerjaan kelas bawah, Bagus membuktikan bahwa profesi ini mampu menghidupi keluarganya dengan layak. Dari hasil menjahit sepatu, ia membesarkan lima orang anak. Tak ada yang kekurangan, semua tumbuh dengan kehidupan terjamin.

Baginya, jasa menjahit sepatu bukan sekadar tambal-menambal alas kaki. Ada kepuasan tersendiri saat melihat sepatu yang nyaris tak terpakai kembali layak digunakan. Sebuah nilai yang sering luput dari pandangan banyak orang.

Namun, roda ekonomi tak selalu berputar mulus. Dalam beberapa tahun terakhir, Bagus merasakan penurunan pendapatan hingga sekitar 30 persen. Jika dulu orderan datang silih berganti, kini kadang sehari hanya tiga pasang sepatu yang masuk.

“Hari ini saja baru tiga orderan,” katanya pelan. “Tapi alhamdulillah, rezeki itu tidak selalu soal uang.” katanya.

Untuk menyiasati keadaan, Bagus menerima jual beli sepatu bekas, terutama sepatu safety dan sepatu PDL. Sepatu-sepatu itu ia poles, perbaiki seperlunya, lalu dijual kembali. Sementara tarif jasa jahit sepatu dipatok bervariasi, mulai dari Rp30 ribu hingga Rp70 ribu per pasang, tergantung tingkat kerusakan.

Bagus mengenang masa keemasannya pada 2008 hingga 2019. Saat itu, penghasilan terasa cukup, bahkan ringan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kini, meski ia mengaku tak memiliki beban berat, ia merasakan betul perputaran ekonomi Mimika yang melambat.

Baginya, tantangan terbesar bekerja di Timika hanyalah cuaca. Jika hujan turun lebat, ia terpaksa menunda pekerjaan. Menunggu reda, baru kembali melanjutkan aktivitas.

Anak sulungnya kini telah menamatkan sekolah dan bekerja di Surabaya. Dua anak lainnya masih duduk di bangku SMP dan SD, sementara sisanya masih kecil. Dukungan keluarga menjadi bahan bakar semangatnya setiap hari.

Harapan Bagus sederhana. Ia tak menuntut lebih. “Yang penting bisa kerja dengan tenang, aman, dan tidak ada kacau,” ujarnya.

Di balik lapak kecil dan jahitan sepatu yang tampak sederhana, tersimpan kisah panjang tentang ketekunan, kesabaran, dan perjuangan seorang perantau yang setia merawat mimpinya sepasang demi sepasang. (Eka)