Kontak Tembak Warnai Evakuasi Korban Eksekusi Mati OPM di Yahukimo
Papua60detik - Panglima Komando Operasi (Pangkoops) TNI Habema, Mayjen TNI Yudha Airlangga, membeberkan kronologi evakuasi korban penembakan di Yahukimo, Papua Pegunungan, usai operasi yang berlangsung pada Kamis (23/7/2026).
Peristiwa penembakan terhadap tiga warga Orang Asli Papua (OAP) terjadi pada 21 Juli 2026 sekitar pukul 14.00 WIT. Korban diketahui merupakan pasangan suami istri, Yentinus Kogoya dan Pam Wendakwe, serta seorang perempuan yang hingga kini belum diketahui identitasnya.
Dalam operasi tersebut, TNI Habema berhasil mengevakuasi jenazah pasangan suami istri tersebut. Sementara itu, satu korban lainnya masih dalam proses pencarian.
Yudha menjelaskan, tim evakuasi harus menempuh perjalanan sejauh sekitar 65 kilometer dari lokasi kejadian menuju pusat Distrik Seradala, Kabupaten Yahukimo, melalui medan yang berat dan penuh tantangan.
"Kami melaksanakan evakuasi dengan jarak sekitar 65 kilometer dari lokasi kejadian menuju pusat Distrik Seradala, Kabupaten Yahukimo, melalui medan yang sangat ekstrem. Tim pertama menemukan jejak darah, kemudian melakukan penelusuran," ujar Yudha.
Di tengah proses evakuasi, sekitar pukul 11.20 hingga 11.40 WIT, tim gabungan terlibat kontak tembak dengan anggota TPNPB-OPM yang diduga telah menunggu kedatangan personel di sekitar lokasi.
Meski menghadapi ancaman, operasi tetap dapat dilanjutkan. Jenazah akhirnya berhasil dievakuasi pada pukul 11.50 WIT, Kamis (23/7/2026).
"Kondisi jenazah yang ditemukan sangat memprihatinkan, dalam keadaan tanpa busana dan tidak layak. Kami mengecam keras tindakan yang kami nilai sangat tidak manusiawi tersebut," katanya.
Selanjutnya, sekitar pukul 14.00 WIT, jenazah tiba di RSUD Dekai untuk menjalani proses visum sebelum diserahkan kepada pihak berwenang.
Menurut Yudha, gangguan keamanan yang dilakukan kelompok separatis OPM telah berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat. Aktivitas perekonomian, pendidikan, hingga pelayanan kesehatan disebut ikut terganggu akibat situasi keamanan yang belum kondusif.
"Dalam pelaksanaan penegakan hukum, kami telah memperoleh mandat dari Presiden untuk mengambil tindakan sesuai ketentuan apabila menghadapi ancaman langsung di lapangan," ungkapnya.
Yudha menambahkan, TNI akan terus bersinergi dengan seluruh pihak melalui pendekatan keamanan maupun pendekatan lainnya guna menciptakan situasi yang kondusif.
Ia juga mengajak seluruh pihak, termasuk tokoh-tokoh OPM, untuk menghentikan kekerasan dan mengedepankan dialog demi mewujudkan Papua yang damai dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
"Kami juga mengajak seluruh pihak, termasuk tokoh-tokoh OPM, untuk mengakhiri pertumpahan darah dan bersama-sama membangun Papua yang damai dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia," ajaknya. (Eka)