Melihat Keseruan Lomba Bulan Bahasa di SATP
Peserta lomba seni lukis pada peringatan Bulan Bahasa di SATP, Rabu (16/10/2024). Foto: Faris/ Papua60detik
Peserta lomba seni lukis pada peringatan Bulan Bahasa di SATP, Rabu (16/10/2024). Foto: Faris/ Papua60detik

Papua60detik – Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP) kembali menyelenggarakan kegiatan lomba seni, bahasa dan budaya memperingati Bulan Bahasa, Rabu (16/10/2024)

Lomba diikuti oleh 47 peserta dari 25 Sekolah Dasar (SD) dan 22 Sekolah Menengah Pertama (SMP) se-Kabupaten Mimika.

"Kegiatan lomba seni dan bahasa ini kami adakan untuk menguatkan rasa cinta pada budaya, khususnya di Kabupaten Mimika. Kami ingin anak-anak memahami dan mencintai budaya tempat mereka tinggal, terutama budaya Amungme dan Kamoro," ujar Wakil Direktur Program dan Monitoring YPMAK, Nur Ihfa Karupukaro.

Ia mengapresiasi antusiasme para peserta yang datang mengenakan pakaian adat Papua, meskipun beberapa di antara mereka bukan berasal dari suku asli Papua. 

"Ini luar biasa, anak-anak sudah mulai menyatu dengan budaya setempat, meski mereka dari latar belakang budaya yang berbeda. Mereka paham bahwa tinggal di Mimika berarti juga mengenal dan mencintai budaya di sini," tambahnya.

Lomba ini untuk meningkatkan kreativitas dan pengetahuan siswa tentang kekayaan budaya di Mimika. Selain lomba bahasa dan seni, SATP secara rutin menyelenggarakan berbagai kegiatan edukatif lainnya seperti, olimpiade sains, serta berbagai kegiatan lain yang berfokus pada pengembangan kreativitas dan kecerdasan siswa.

Ketua Yayasan Pendidikan Lokon Perwakilan Timika Andreas Ndityomas, mengatakan lomba ini juga menjadi ajang untuk mengidentifikasi minat dan bakat siswa dalam bidang seni dan budaya.

 "Jika bulan Mei kita fokus pada olimpiade sains, bulan Agustus pada kemerdekaan, maka bulan Oktober kita dedikasikan sebagai Bulan Bahasa. Ini semua bukan hanya untuk SATP, tapi juga melibatkan sekolah-sekolah lain di Mimika, agar bersama-sama kita bisa memperjuangkan pendidikan berbasis budaya," jelasnya.

Lomba tahun ini menampilkan berbagai kategori, termasuk musikalisasi puisi, melukis, serta pementasan cerita dalam bahasa Amungme dan Kamoro. Andreas juga menekankan pentingnya sistem pendidikan yang tidak hanya mengikuti kurikulum nasional, tetapi juga mengakar pada budaya lokal Papua yang kaya akan nilai-nilai kearifan lokal.

Melalui dukungan YPMAK sebagai pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia, lomba ini diharapkan dapat menjadi langkah penting dalam memajukan kualitas sumber daya manusia Papua. "Kami ingin generasi muda Papua tidak hanya siap untuk Indonesia, tetapi juga untuk dunia," tutup Andreas.

Kegiatan ini diharapkan dapat terus mendorong generasi muda Mimika untuk mencintai budaya lokal, serta meningkatkan kualitas pendidikan dengan integrasi nilai-nilai budaya dan kearifan lokal Papua. (Faris)