SATP Kembangkan Hidroponik, Siswa Belajar Sains Sekaligus Berwirausaha
Tanaman hidroponik SATP, foto: Martha/ Papua60detik
Tanaman hidroponik SATP, foto: Martha/ Papua60detik

Papua60detik - Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP) milik Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme Kamoro (YPMAK) selaku pengelola dana kemitraan PTFI memiliki sejumlah  program unggulan, salah satunya adalah UPT Edupreneur atau pendidikan kewirausahaan berupa pengembangan sistem pertanian modern hidroponik, khusus pakcoi dan selada. 

Program ini berkembang menjadi program berkelanjutan yang tidak hanya memberikan dampak ekonomi, tetapi juga memperkuat pendidikan sains siswa. Melalui kerja sama dengan kontraktor sebagai penyalur hasil panen ke PTFI, program yang telah berjalan dua tahun ini berhasil menghasilkan pendapatan sekitar Rp200 juta.

Penghasilan yang didapat akan diputar kembali untuk penanamanan yang berkelanjutan serta menunjang prestasi siswa siswi SATP baik di tingkat daerah, nasional, tetapi juga internasional.

Wakasek Kurikulum SMP Taruna Papua, Elpianus Paat mengatakan program ini bermula dari kunjungan seorang ahli hidroponik (Leroy) dari PTFI yang melihat aktivitas Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di SATP. Saat itu, para siswa tengah melakukan praktik penanaman hidroponik sebagai bagian dari pembelajaran. 

Diskusi kemudian berlanjut hingga akhirnya Leroy mengirimkan tenaga ahli, Okto Magai. Dengan modalnya sendiri, Okto Magai membangun green house dan menyediakan semua perlengkapan dan peralatannya, serta mendatangkan beberapa karyawannya untuk melatih anak-anak dan guru-guru di SATP. 

Setelah satu hingga dua bulan pendampingan, siswa kemudian dilepas. Namun, kerja sama tetap berjalan. Seluruh hasil panen dijual kembali ke mitra, PT Namo Jaya Timika milik Okto Magai.

Ia menjelaskan lahan seluas 40 x 25 meter di SATP mampu menghasilkan 100 kg sayur sekali panen. Di dalamnya terdapat 20 meja tanam hidroponik. Satu meja memiliki 100 lubang, setiap lubang menghasilkan 1 kilogram sayur.  

Elpianus Paat menyebut, untuk keperluan proyek ini masih bisa didapatkan di Timika mulai dari bibit dan pupuk AB mix khusus untuk tanaman hidroponik. 

"Kalau bibit di Timika ada, yang kendala itu adalah plastik UV karena sering habis di Timika. Kita harus kerjasama dengan yayasan dan kemudian mereka minta tolong di yayasan pusat di Jakarta. Tetapi tidak serta-merta yayasan yang beli. Kita yang bayar karena sudah ada dana hasilnya," terang ujar Elpianus Paat saat diwawancarai, Selasa (03/02/2026). 

Selain hidroponik, siswa juga melakukan penanaman di bedeng-bedeng pertanian di area sekolah, seperti terong dan tanaman lainnya, sebagai bahan perbandingan metode tanam.

Sementara itu, Kepala SATP, Sonianto Kuddi mengatakan, pihaknya menyambut baik program ini karena selaras dengan pembelajaran sains. Anak-anak dilibatkan secara langsung dalam proses, mulai dari menanam, mengukur pertumbuhan tanaman, mengolah data, membuat grafik, hingga menarik kesimpulan dari hasil pengamatan. Dari proses ini, rasa ingin tahu dan kemampuan berpikir kritis siswa berkembang kuat.

"Itu mereka bisa mengolah data lalu dibuat dalam bentuk grafik. Dari grafik itu mereka bisa buat satu kesimpulan. Ternyata kita ada mengalami kerugian di sini, atau tanamannya kurang tumbuh. Kenapa? Di situlah rasa ingin tahu ingin menanyakan lebih lagi itu muncul dari anak-anak. Jadi ada proses sains yang sangat kuat dalam program ini," terangnya. 

Ia berharap, siswa dapat menerapkan pengetahuan ini di rumah masing-masing nantinya setelah lulus. Dengan lahan dan bekal keterampilan hidroponik, mereka diharapkan mampu memenuhi sendiri kebutuhan sayur keluarga, bahkan mengembangkannya menjadi usaha yang bernilai ekonomi.

"Minimal mereka memiliki modal ataupun pengetahuan penanaman hidroponik. Di rumah bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri dulu, baru kalau memang sudah oke, bisa dijual ke orang lain. Ini dikerjakan anak-anak setiap sore karena setiap hari harus dirawat," pungkasnya. (Martha)