Wajah Baru di Sentra Pendidikan, Akankah Berhasil?
SMA Negeri 5 Sentra Pendidikan, foto; Martha/ Papua60detik
SMA Negeri 5 Sentra Pendidikan, foto; Martha/ Papua60detik

Papua60detik - Sentra Pendidikan Kabupaten Mimika tak lagi di bawah Dinas Pendidikan. Sentra Pendidikan bakal punya organisasi sendiri dan berada langsung di bawah bupati.

Tidak tanggung-tanggung, Pemkab Mimika mendatangkan Prof Yohanes Surya untuk melakukan pelatihan selama 20 hari terhadap 1000 anak di sana. Termasuk melakukan percepatan terhadap siswa yang masih kurang dalam 3M (Membaca, Menulis, dan Menghitung). 

Denga program baru ini, Pj Bupati Mimika Valentinus S Sumitomo berharap terjadi perubahan di Sentra Pendidikan. 

Kepala SMA Negeri Sentra Pendidikan, Yohanes Napan menyambut baik hal tersebut. Menurutnya, memberdayakan anak-anak 7 suku di Sentra Pendidikan polanya harus seperti yang direncanakan Pj Bupati. 

Namun, sebagai Kepala Sekolah yang sudah lama bertugas di Sentra Pendikan, ia mengingatkan agar dalam menjalankan program ini tetap melihat kebiasaan, adat istiadat, sosial budaya masyarakat anak-anak 7 suku. 


Sesuai pengalamannya SMA Negeri 5, kadang ada program yang menurut sekolah baik, tapi belum tentu baik menurut siswa.

"Hanya masukan satu saja. Untuk Pemda yang menangani. Kan, bukan ke Dinas Pendidikan lagi. Pemerintah harus bisa menganalisa kebiasaan, adat istiadat, sosial masyarakat anak-anak 7 suku. Jadi, kami itu kadang-kadang Kegiatan Belajar-Mengajar (KBM) di kali, di pohon-pohon. Lebih cepat mereka di situ. Anak-anak ini suka belajar di alam," ujar Yohanes Napan saat diwawancarai di kantornya,  Sabtu (12/10/2024). 

Pada pertemuan sebelumnya Pj Bupati dengan para guru SMA Sentra Pendidikan pada Kamis (10/101/2024), Valentinus menjelaskan bahwa nanti Sentra Pendidikan akan dibangun pagar keliling, dapur dan laundry ada di dalam. Hal itu untuk mencegah adanya anak-anak yang keluar dari asrama tanpa sepengetahuan penjaga. Memang, Paulus Napan mengakui bahwa selama ini, anak-anak masih sering keluar asrama tanpa sepengetahuan penjaga. Misalnya, ketika ada pesta adat, anak-anak akan pulang tanpa izin. 

"Namun, Pj Bupati sudah mengatakan akan membuat pagar keliling. Lalu, ketika sudah ada pagar keliling, otomatis anak-anak akan tinggal di dalam dan apa-apa juga di dalam, itu juga akan menjadi soal. Di situ nanti yang akan terjadi kejenuhan. Ini soal budaya. Kejenuhan anak-anak 7 suku itu tinggi, mereka tidak betah tinggal berlama-lama di dalam ruangan dan kalau dipaksa, dia akan pulang," terangnya. 

Oleh karena itu, menurut Paulus Napan harus ada pendekatan-pendekatan khusus dan kesabaran pada siswa. Selama ini, anak-anak lebih suka pada pendekatan pendeta dan pastor. Mereka antusias pada acara retret, rekoleksi, camping rohani, lomba baca kitab suci, lomba menyanyi lagu rohani, dan drama kitab suci. Selain itu siswa juga bisa dirangsang misalnya melalui cita-cita, literasi.

Dari 440 anak SMA di Sentra Pendidikan, 26 di antaranya masih kurang dalam 3M. Selama ini sekolah sudah berusaha melakukan berbagai hal agar anak-anak ini bisa mengejar ketertinggalan. Senin sampai Jumat, anak-anak akan belajar sesuai KBM dan Sabtu khusus untuk 3M. Pernah juga sekolah bikin program agar yang 26 orang ini diberi perhatian khusus, tetapi anak-anak marah dan merasa tersinggung karena merasa diasingkan. 

"Waktu pendaftaran, kita diagnosa dulu siswanya, mana yang belum lancar 3M, dari SMP mana? Ternyata banyak dari gunung, karena proses belajar di SMP-nya tidak maksimal, mungkin karena banyak kejadian misalnya perang suku atau lainnya. Dan satu lagi, anak 7 suku yang tidak diterima di YPMK itu, semua datang ke sini. Dan kami tidak bisa menolak, karena ketika kami menolak, bisa dibayangkan seperti apa," tambahnya. 

Yohanes Napan pada prinsipnya mendukung penuh program Pj Bupati dan juga pelatihan dari Prof Yohanes Surya. Ia berharap, siapa pun yang akan ditempatkan di Sentra Pendidikan agar tetap memperhatikan kebiasaan, adat istiadat, sosial masyarakat anak-anak 7 suku. 

"Saya setuju. Ide, gagasan, dan tujuan Pj Bupati, saya sangat setuju. Mungkin ada cara dari Prof yang lebih cepat. Saya sangat setuju dengan beliau, tetapi jangan sampai instan. Dan semua detail harus diperhatikan dengan baik, budaya dan adat istiadat anak-anak, karena kalau salah pendekatan, akan susah nantinya," pungkasnya. (Martha)