Yulius Uwe: Legenda Hidup Atletik dan Mimpinya di MSC
Legenda hidup atlet dasalomba Indonesia, Yulius Uwe. Foto Joe Situmorang/Papua60detik
Legenda hidup atlet dasalomba Indonesia, Yulius Uwe. Foto Joe Situmorang/Papua60detik

Papua60Detik - Di era sekarang, tak lagi banyak yang kenal Yulius Uwe. Tapi jika kembali ke medio tahun 80 sampai 90-an, nama pria asli Papua ini selalu jadi buah bibir.

Yulius spesialis cabang atletik di nomor dasalomba. Kiprahnya sebagai atlet menjadikannya seorang legenda.

Karir profesionalnya sebagai atlet terbilang cepat. Pria yang lahir di Kokonao Distrik Mimika Barat Kabupaten Mimika 12 Juni 1965 ini pertama kali ikut kejuaraan atletik junior di Jakarta tahun 1984. Ia juara dan memecahkan rekor junior dasalomba.

Ia mulai masuk Pelatanas. Tahun 1985, Yulius berangkat latihan ke Phoenix, Amerika Serikat, dipersiapkan mengikuti Sea Games 1985 di Bangkok, Thailand.

Dan siapa sangka, di Bangkok ia meraih medali emas dan memecahakan rekor dasalamba Sea Games. Yulius bahkan jadi penentu Indonesia jadi juara umum mengalahkan Thailand sebagai tuan rumah ketika itu.

“Saya sempat kaget juga saat itu karena tidak pernah terpikir bisa juara,” katanya saat berbincang dengan reporter Papua60detik di Mimika Sport Complex, Senin (13/9/2021).

Bersama atlet indonesia lainnya Yulius dipersiapkan ke Asian Games 1986 di Korea Selatan. Ketika itu, ia yang membawa bendera kontingen Indonesia. Tapi sayang, di Korea Selatan ia hanya hanya mampu di posisi nomor 4. Ia menyebut sebabnya, kendala non teknis.

Tahun 1987, giliran Indonesia jadi tuan rumah Sea Games. Spesialnya, Yulius didapuk sebagai pembawa obor yang menyulut api Sea Games pada pembukaan di Stadian Utama Senayan.

Penonton  bersorak, menggelarinya 'Superman'. Sebutan itu mengacu pada nomor spesialisasinya, dasalomba.

Dasalomba merupakan perlombaan di cabang atletik yang terdiri dari 10 nomor. Jika atlet lain hanya bertanding di satu nomor, atlet dasalomba bertanding di 10 nomor berbeda. Artinya, atlet dasalomba sudah pasti punya fisik dan mental yang benar-benar mumpuni.

Dan di Jakarta, rekor Sea Games pecah lagi. Yulius dikalungi medali emas dan memecahkan rekornya sendiri di Sea Games Bangkok.

Malang melintang di atletik, Yulius hijarah ke sepak bola. Tahun 1989 ia bermain di Klub Krama Yudha Tiga Berlian selama dua tahun.

Tapi nasibnya memang terikat dengan atletik. Tahun 1992, Yulius ikut Indonesia Open dan jadi juara lagi di nomor dasalomba.

Sea Games di Singapura tahun 1993 jadi akhir karir profesionalnya sebagai atlet. Dan ia menutupnya dengan manis. Kedua kalinya ia memecahkan rekor Sea Games.

“Itu terakhir saya pecahkan rekor. Dan memang pada saat itu saya ambil keputusan untuk berhenti (pensiun),” cerita Yulius.

Masa jaya dengan tiga medali emas Sea Games tak lantas membuatnya bergelimang materi. Yulius mengungkap, jadi atlet di masanya tidak sama sekarang. Jadi juara dan pecahkan rekor tak pernah ia dapat bonus seperti atlet sekarang.

“Dulu kita hanya pikir tampil untuk juara saja,” katanya.

Usianya sudah 56 tahun. Yulius banyak menghabiskan waktu berpikir. Sesekali ia bikin catatan. Pertanyaan terus menggelayut di kepalanya, kenapa setelah masanya, atlet-atlet Papua khususnya di cabang atletik sulit sekali gemilang di kancah nasional sampai kawasan Asia Tenggara?

Tahun 2018, Yulius kembali ke Papua. Ia bekerja di Mimika Sport Complex (MSC) yang dibangun PT Freeport Indonesia (PTFI). Ia mengaku ditugaskan sebagai penanggung jawab prestasi atletik. Di MSC ia mecoba menjawab pertanyaan di kepalanya.

Sebagaimana pengalamannya, Yulius sangat percaya bada bentukan alam. Ia lahir sampai tamat SMP di Kokonao, wilayah pesisir Mimika. Yulius bahkan punya catatan peta potensi atletik berdasarkan karakteristik geografis wilayah Papua.

Venue semegah MSC yang punya penginapan atlet sendiri, menurut Yulius sudah seharusnya melahirkan juara. Ia mahfum, PON kali ini mungkin belum, tapi di PON berikutnya juara sudah harus lahir dari MSC. Sebagai mantan atlet ia sadar betul, ciptakan juara perlu waktu, biaya dan proses.

"Tapi karena keadaan yang tidak mendukung, akhirnya saya harus bisa mengatakan bahwa, mungkin di kejuaraan berikutnya, PON berikutnya," kata Yulius.

Di MSC ia menyemai mimpi, kelak di suatu ketika, ada atlet dari Papua dari cabang atletik yang bisa menyamai bahkan melampauinya di kancah nasional dan internasional. Jadi legenda berikutnya.

"Pada saat dikalungkan medali, rasa haru itu masih terasa sampai sekarang. Tidak bisa saya lupa," kenang Yulius ketika memecahkan rekor di Bangkok Thailand. (Joe Situmorang)