Cerita Tukang Ojek Timika di Era Pandemi Corona
Papua60detik - Wabah Covid-19 tidak hanya mengancam kesehatan, tapi juga menghantam sendi-sendi ekonomi terutama mereka yang berpenghasilan harian dan tak tetap.
Tukang ojek misalnya, baik yang sudah online maupun yang masih berpangkalan merasakan betul dampak mewabahnya virus corona.
Baca Juga: Bakal Diresmikan Menkop, Koperasi Merah Putih di Atuka Diproyeksi Jadi Penggerak Ekonomi Lokal
Sederhananya, jasa ojek dibutuhkan ketika masyarakat bergerak. Kebijakan dan anjuran stay at home atau tinggal di rumah jelas mengurangi pergerakan warga yang merupakan sumber nafkah para tukang ojek.
Di sisi lain, stay at home untuk mengurangi pergerakan warga mesti dilakukan untuk mengendalikan penularan covid-19
Di Timika anjuran stay at home lalu diikuti kebijakan pembatasan aktifitas dari pukul 06.00 sampai pukul 14.00 WIT. Di luar rentang waktu itu, warga wajib ada di rumah.
"Jauh sekali dibandingkan sebelum-sebelumnya. Biasanya kita bisa dapat 200, 150 (ribu rupiah), sekarang 50 ribu susah," kata Latia, seorang tukang ojek di Timika, Rabu (22/04/2020).
Dengan pendapatan minim dan ancaman tertular virus, para tukang ojek sejak pagi mesti tetap keluar bertaruh nasib agar asap dapur di rumah tetap mengepul.
"Kita putar dua kali tiga kali itu baru dapat penumpang, kalau dulu, sebelum adanya ini (pembatasan aktifitas), satu kali roll itu dapat," kata Bapak Ical, tukang ojek lain.
Untuk membantu meringankan beban warga, beberapa pribadi pun organisasi sudah turun tangan berbagi sembako dan makanan kemasan.
Tapi bagaimanapun aksi charity yang demikian hanya sporadis dan tak bisa diandalkan sepenuhnya mengatasi persoalan ekonomi di masa pandemi. Apalagi tak ada kepastian kapan wabah ini berakhir.
Sementara sejauh ini, Pemkab Mimika belum mengeluarkan paket kebijakan yang komprehensif dan sepesifik mengatasi dampak ekonomi selama masa pandemi virus corona. (Tanto)