Disperindag Klaim Tidak Ada BBM Oplosan di SPBU Timika
Petrus Pali Ambaa bersama tim saat melakukan pemantauan di SPBU Nawaripi, Foto; Martha/ Papua60detik
Petrus Pali Ambaa bersama tim saat melakukan pemantauan di SPBU Nawaripi, Foto; Martha/ Papua60detik
Papua60detik - Marak pemberitaan soal BBM oplosan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Mimika, memantau aktivitas SPBU Nawaripi Jalan Yos Sudarso Timika, Kamis (27/02/2025). 

Kepala Disperindag Mimika, Petrus Pali Ambaa mengaku rutin melakukan pemeriksaan kualitas dan standar BBM yang didistribusikan di SPBU. Soal mekanisme dan tempat pemeriksaan atau ujinya, ia tak merincinya.

"Kita lihat takaran BBM yang dijual sesuai dengan yang tertera pada nosel SPBU dan juga memastikan bahwa tidak ada BBM oplosan yang dijual. Jadi, dalam pemeriksaan BBM di SPBU, tidak ditemukan adanya pelanggaran," kata Petrus kepada wartawan.

Katanya, pertamax dan pertalite yang dijual di SPBU memiliki warna sesuai dengan standar, yaitu pertamax berwarna kebiru-biruan dan pertalite berwarna hijau. 

Ia berharap bahwa dengan hasil pemeriksaan, masyarakat tidak khawatir membeli BBM di SPBU. 

"Kita juga memastikan bahwa pelayanan di SPBU telah sesuai standar. Jika ditemukan adanya pelanggaran, maka akan dilakukan tindakan yang sesuai, termasuk teguran atau sanksi lainnya," pungkasnya. 

Sebelumnya, Kejaksaan Agung menetapkan beberapa orang tersangka, salah satunya Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga dalam kasus dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang.

Menurut Kejaksaan Agung, tersangka melakukan pembelian RON 92, padahal sebenarnya hanya membeli RON 90. RON 90 tersebut lalu diblending di storage atau depo untuk jadi RON 92 yang secara aturan tidak diperbolehkan.

PT Pertamina kemudian membantahnya. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Heppy Wulansari memastikan kualitas pertamax yang dijual sesuai spesifikasi yang ditetapkan pemerintah yakni RON 92.

“Produk yang masuk ke terminal BBM Pertamina merupakan produk jadi yang sesuai dengan RON masing-masing, pertalite memiliki RON 90 dan pertamax memiliki RON 92. Spesifikasi yang disalurkan ke masyarakat dari awal penerimaan produk di terminal Pertamina telah sesuai dengan ketentuan pemerintah,” ujar Heppy pada siaran pers, Selasa (25/2/2025).

Katanya, treatment yang dilakukan di terminal utama BBM adalah proses injeksi warna (dyes) sebagai pembeda produk agar mudah dikenali masyarakat. Selain itu juga ada injeksi additive yang berfungsi untuk meningkatkan performance produk pertamax.

"Jadi bukan pengoplosan atau mengubah RON. Masyarakat tidak perlu khawatir dengan kualitas pertamax," jelas Heppy. (Martha)