Meliaki Baransano, Juru Kunci Gedung Eme Neme yang Sudah 14 Tahun Jadi Honorer
Papua60detik - Bagi Meliaki Baransano, gedung Eme Neme Yauware ibarat piring makan. Sejak 2008 ia menjaga kebersihan dan keamanan gedung milik pemerintah itu.
Karena gedung itu pula, setahun kemudian ia diangkat jadi pegawai honorer di Bagian Aset, sekarang namanya Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD). Dari upah sebagai honorer itulah ia menafkahi keluarganya.
Jika lama pengabdian jadi syarat satu-satunya seorang honorer diangkat jadi ASN, Meliaki sudah lebih dari pantas. Bayangkan, sudah 14 tahun ia jadi 'juru kunci', menjaga gedung di pusat Kota Timika itu.
Tapi cerita hidupnya tak semudah itu. Sudah empat kali Meliaki ikut pemberkasan, dan hasilnya tak sesuai harapan. Kini di usianya yang tak lagi muda, sudah 48 tahun, dia hanya pasrah dengan segala aturan pemerintah dalam pengangkatan honorer jadi ASN.
"Saya mulai honor dan jaga di sini (Gedung Eme Neme) sejak Bupati Klemen, 2008 saya mulai menjaga gedung ini dan 2009 saya masuk jadi honorer dan sampai detik ini saya belum diangkat sebagai ASN, saya honor di bagian Aset (BPKAD) jadi sudah 14 tahun," kisahnya.
Berkali-kali gagal, harapannya tak pupus. Baginya, jika jadi PNS sudah tak memungkinkan, diangkat jadi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) sudah merupakan berkah untuknya dan keluarganya. Paling tidak, penghasilannya reguler dan pasti.
"Usia saya 48 tahun, biarpun nanti masuk PPPK tidak masalah yang penting kita bisa terima gaji, bisa kita kasih keluarga (anak istri)," kata Meliaki.
Apalagi Presiden Jokowi baru saja menekan Undang-Undang nomor 20 tahun 2023 yang mengatur tentang ASN. Beleid itu salah satunya mengatur penghapusan honorer paling lambat Desember 2024. Tentu Meliaki khawatir, bagaimana nasibnya setelah Desember 2024 jika ia tak juga diangkat jadi PPPK.
14 tahun ia jadi 'juru kunci'. Pengguna Gedung Eme Neme silih berganti, dari pemerintah sampai kelompok dan komunitas warga. Tugas Meliaki itu saja, memastikan Gedung Eme Neme terjaga dan siap dipakai pengguna berikut.
Paling sulit soal sampah. Padahal ia sudah menyediakan kantong sampah. Tapi di Timika, soal sampah ini memang belum ketemu solusinya.
Di lain waktu, ia dapat berkat. Kelompok atau komunitas warga kadang memberinya uang usai menggunakan Gedung Eme Neme. Uang terima kasih katanya.
"(Gedung Eme Neme) ini ibaratnya saya punya piring makan, jadi saya harus menjaganya daripada saya pergi pakai orang punya piring makan kan tidak enak," kata Meliaki. (Eka)