Pasar Murah di Timika dan Dampaknya
Papua60detik - Pemerintah Kabupaten Mimika terus menggalakkan operasi pasar murah, alasannya untuk menekan laju inflasi. Dinas Perindustrian dan Perdagangan serta Dinas Ketahanan Pangan Jumat (10/11/2023) sama-sama menggelar operasi pasar di tempat yang berbeda.
Disperindag operasi di Pelataran gedung Eme Neme dan Dinas Ketahanan Pangan di area Kantor Distrik Mimika Baru.
Baca Juga: Bakal Diresmikan Menkop, Koperasi Merah Putih di Atuka Diproyeksi Jadi Penggerak Ekonomi Lokal
Di Eme Neme, warga telah mengantri sejak pagi, dari lansia hingga ibu hamil turut mengantri demi mendapatkan harga murah yang disubsidi pemerintah itu.
Beragam komoditas yang dijual dalam pasar murah, beras SPHP BUMN ukuran 5kg seharga Rp54 ribu, Beras Premium BUMN 10kg seharga Rp122 ribu.
Pemerintah menggandeng badan urusan logistik (Bulog) sebagai penyedia beras. Operasi kali ini Bulog menyiapkan sebanyak 4.250 kilo gram.
Sementara, komoditas lainnya seperti bawang merah dijual dengan harga Rp25 ribu per kilogram dan bawang putih Rp30 ribu per kilogram dengan jumlah bawang merah dan bawang putih rata-rata setiap pelaksanaan operasi sebanyak 1,5 ton.
Sedangkan untuk tomat dijual dengan harga Rp15 ribu per kilogram. Rata-rata tomat itu dari luar daerah. Jika tomat lokal mampu memenuhi permintaan maka distributor akan memilih tomat lokal.
"Ya kalau ada tomat lokal kita pakai tomat lokal, kalau tidak ada atau lagi kosong ya pakai tomat kiriman," ujar salah satu distributor yang enggan disebut namanya.
Beruntung distributor itu digandeng Disperindag dalam pelaksanaan pasar murah, katanya setiap pelaksanaan pasar murah terkadang dia selalu kecolongan.
"Bagus pasar murah ini, tapi kita kadang juga tekor, orang ramai begini ada yang nakal, tiba-tiba ambil kita gak tahu," terangnya.
"Harusnya pengawasan lebih ketat lagi," lanjut dia.
Penyuluh pertanian Juharti yang ikut andil dalam pelaksanaan pasar murah mengatakan bahwa selama ini pihaknya belum pernah mengambil barang komoditas dari luar atau barang kiriman.
"Karena kami ambil langsung dari petaninya, dan sebisa mungkin kami tidak ambil dari luar," katanya.
Lapak yang dijual dari Distanbun itu memang hanya sayur-sayuran lokal yang ada di Mimika seperti cabe rawit, sawi, daun singkong, betatas, singkong, dan nanas.
Untuk cabe rawit rata-rata yang dijual setiap pelaksanaan pasar murah antara 50 kilogram hingga paling banyak 170 kilogram dan sudah dikemas per setengah kilo.
Untuk pembatasan pembelian, warga hanya boleh membeli 2 kantong atau satu kilogram dengan harga jual saat ini per kilogram Rp60 ribu.
"Kami ambil di petani harga 70, di sini kami jual 60, petani juga senang jika pemerintah yang beli karena langsung dibayar dan tidak ditawar lagi," jelasnya.
Salah seorang warga Masriah mengaku senang saat ada operasi pasar murah, ia rela antri untuk berbelanja kebutuhan dapurnya.
"Saya tahu adanya pasar murah juga dari tetangga, kebetulan rumah saya tidak jauh dari Eme Neme, ya ini sangat membantu, lumayan lah daripada harus jauh-jauh ke pasar," kata dia.
Sementara pedagang sayur di Pasar Sentral Heri mengeluhkan sepinya pembeli, dia berharap pemerintah saat melakukan operasi pasar murah jangan terfokus di kota.
"Bagus tujuan pemerintah buat pasar murah, tapi ya jangan sering di kota, coba lari ke pinggiran sana," ujarnya.
Kepala seksi pengembangan sarana perdagangan Ribka Aibekob mengatakan bahwa operasi yang digelar Disperindag merupakan yang ke 15 kali dan akan masih berlangsung hingga akhir Desember.
"Kita masih akan terus gelar operasi sampai akhir Desember, terutama juga kita akan ke pedalaman dan pesisir," kata Ribka.
Sementara Badan Pusat Statistik (BPS) Mimika mengklaim dengan gencarnya pemerintah daerah dalam menggelar operasi pasar murah dianggap sebagai berhasilnya kolaborasi dari tim pengendalian inflasi daerah (TPID) dalam menekan angka inflasi.
Dalam rilis Berita Resmi Statistik (BRS) yang dikeluarkan oleh BPS Mimika per Oktober 2023 mengalami deflasi sebesar 0,39 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 118,53.
Meski demikian, masih ada beberapa komoditas yang mengalami inflasi salah satunya cabe rawit. (Eka)