Uskup Timika: Penambahan Militer Persempit Ruang Hidup Masyarakat Papua
Papua60detik - Uskup Keuskupan Timika, Mgr Bernardus Bofitwos Baru, OSA menilai penambahan pasukan dan pembukaan pos-pos militer baru di Papua telah mempersempit ruang hidup masyarakat adat dan menciptakan rasa tidak aman.
Menurutnya, kehadiran militer yang terus bertambah telah mengambil alih wilayah-wilayah yang selama ini menjadi tempat tinggal, berkebun, dan berburu masyarakat. Pola hidup masyarakat berubah, tidak bisa lagi hidup seperti semula.
"Ruang gerak masyarakat semakin sempit. Mereka semua jalan ke mana-mana, harus dikawal. Disuruh batasi wakt, jam 12 sudah kembali. Orang berkebun kan sampai malam, orang ingin berburu. Perubahan sistem seperti ini membunuh secara halus," ujar Uskup saat diwawancarai, Rabu (07/01/2026).
Uskup juga mempertanyakan apa guna pengerahan pasukan dalam jumlah besar dengan alasan pengejaran kelompok bersenjata TPNPB. Ia menilai alasan keamanan sering dijadikan untuk kepentingan lain, terutama eksploitasi Sumber Daya Alam (SDA) di Papua, mulai dari kelapa sawit hingga Proyek Strategis Nasional (PSN) yang sedang berjalan. Tujuannya melindungi kepentingan perusahaan milik oligarki, bukan untuk masyarakat.
"Tujuannya hanya untuk keamanan dan untuk membunuh TPNPB? Kenapa tidak ditangkap? Berapa puluh tahun ini kok kejar TPNPB terus? Mereka berapa orang sih? Apa tujuannya? Ada apa di balik itu? Ini kan semua skenario pembohongan publik oleh negara untuk kepentingan eksploitasi sumber daya alam," terangnya.
Atas dasar itu, Uskup Timika menyampaikan sikap, meminta agar penambahan pasukan dihentikan dan pos-pos militer baru tidak lagi dibuka.
Uskup juga meminta Presiden Prabowo membuka ruang dialog sebagai jalan penyelesaian persoalan Papua, terutama yang berkaitan dengan isu keamanan dan keadilan sosial.
"Saya kira negara harus diskusi, berdialog untuk menyelesaikan persoalan-persoalan di Papua kalau itu persoalannya menyangkut keamanan, bukan dengan cara sepihak. Kalau model begini, perlawanan akan terus. Orang yang dirampas hak hidupnya pasti akan melawan balik," pungkasnya. (Martha)