Curah Hujan Tinggi Jadi Ancaman, Timika Butuh Solusi Baru Atasi Banjir
Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa dan Bupati Mimika Johannes Rettob meninjau lokasi banjir di Bandara Lama, foto: Martha/ Papua60detik
Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa dan Bupati Mimika Johannes Rettob meninjau lokasi banjir di Bandara Lama, foto: Martha/ Papua60detik

Papua60detik - Setiap kali periode curah hujan tinggi, sebagian wilayah di Kota Timika rutin terendam banjir. Sebagai kota hujan, Kabupaten Mimika harusnya waspada dan memiliki mitigasi 

Sebelumnya Bupati Mimika, Johannes Rettob mengatakan berdasarkan laporan kepala distrik dan lurah, banjir terjadi karena curah hujan tinggi dan saluran drainase yang tersumbat. Oleh karena itu, pemerintah melakukan langkah cepat untuk menangani banjir dengan membuka drainase baru. Langkah tersebut sebagai penangan sementara, Bupati berjanji bahwa ke depan tidak ada lagi drainase terbuka di setiap perumahan. 

Kamis (22/08/2025) kedua kalinya pemerintah turun meninjau langsung lokasi banjir. Kali ini Bupati Mimika turun bersama Gubernur Provinsi Papua Tengah Meki Frita Nawipa didampingi Wakil Bupati Nabire Burhanuddin Pawennari. 

Adapun lokasi banjir yang dikunjungi yakni, jalan Bandara Lama kemudian di area Perumahan HOPE dan di SP1 belakang TPU.

Masyarakat menggunakan kesempatan tersebut untuk mengadu kepada pemerintah, betapa banjir sangat mengganggu dengan kondisi rumah yang tidak layak huni. Seperti warga di area SP1, mereka meminta untuk pembangunan rumah layak huni, sebab rumah yang ditinggali butuh perbaikan dan perhatian.

Hal itu langsung ditanggapi Johannes Rettob, bahwa pembangunan rumah dan pekerjaan jalan juga parit akan dikerjakan menggunakan APBD Mimika. Ia mengatakan hal urgent seperti ini pasti ada dananya karena untuk kemanusiaan. 

Menurut Gubernur, perilaku masyarakat di Timika berbeda dengan daerah lain yang kerap menolak jika pemerintah ingin melakukan perbaikan, artinya masyarakat Timika menginginkan perubahan. 

Pada peninjauan lokasi tersebut, Gubernur menyoroti masih ada warga yang membangun rumah di atas Daerah Aliran Sungai (DAS). Padahal, tindakan tersebut meningkatkan risiko banjir dan mengancam keberlangsungan lingkungan. 

"Masyarakat jangan bangun rumah lagi di atas DAS (Daerah Aliran Sungai) karena dampak ke depan itu berbahaya," kata Meki Nawipa. 

John Rettob mengonfirmasi, aliran sungai di Timika macet gara-gara pembangunan rumah di atas DAS. Oleh karena itu, ia menyebut kemungkinan besar bangunan di DAS akan ditertibkan dan menormalisasi sungai-sungai di area kota.

Warga berharap, dengan turunnya pemerintah secara langsung bisa membuat solusi dan kebijakan bukan hanya sementara tetapi untuk jangka panjang.

"Beberapa titik itu persoalan cuma sampah, paritnya tersumbat dan lain-lain. Jadi kadang-kadang masyarakat ini teriak tapi dia sendiri tidak sadar akan kebersihan. Saya himbau kepada masyarakat untuk jaga kebersihan lingkungan," pungkasnya.  (Martha)