Pemkab Mimika Kaji Emisi Karbon Jadi Sumber Pendapatan
Papua60detik - Badan Pendapatan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Mimika seminar penyusunan dokumen inventarisasi emisi gas rumah kaca, Kamis (24/10/2024).
Sekretaris Bappeda, Joseph Manggasa menyebut emisi gas rumah kaca saat ini sudah jad isu dunia terkait perubahan iklim. Tapi di Mimika, isu ini masih hal biasa.
Ia menjelaskan dalam dokumen perencanaan pembangunan baik di nasional bahkan di Kabupaten Mimika, lewat RPJPD isu lingkungan menjadi salah satu yang dibahas secara khusus yang berkaitan dengan emisi gas rumah kaca.
Sebab itu Bappeda menginisiasi seminar emisi rumah kaca. Menurutnya Mimika memiliki potensi menyimpan stok karbon di hutan mangrove, rawa dan lahan gambut. Tapi potensi itu masih memerlukan beberapa kajian.
"Kalau kita mungkin di Papua khususnya di Timika, kita mungkin tidak merasa khawatir karena hutan kita masih banyak, lingkungan kita masih terjaga. Namun, apabila stok karbon ini bisa kita kelola dengan baik, mungkin akan ada potensi PAD yang bisa kita dapatkan," ujar Joseph.
Sementara, akademisi STUJ, Alfred Benjamin Alfons, menyebut perubahan iklim, misalnya suhu semakin panas, merupakan dampak dari emisi karbon rumah kaca. Sehingga perlu dilakukan kajian untuk mengetahui dalam suatu daerah itu, sumber-sumber dari emisi karbon. Misalnya di sektor pertanian, luasan lahannya berapa? Pupuk yang digunakan berapa banyak? Dari sektor industri misalnya berapa banyak bahan bakar yang digunakan, demikian juga dalam rumah tangga.
"Jadi data-data itu nanti yang kami kumpulkan, itu diolah lalu dianalisis dengan faktor-faktor emisi yang ada, nanti didapatkan berapa besar emisi karbon yang didapatkan di Kabupaten Mimika itu," kata Albert.
Senada dengan Sekretaris Bappeda, Albert mengatakan gas karbon ini bisa dimanfaatkan sebagai potensi PAD. Hasil inventarisasi dan data-data yang dihasilkan akan menjadi database untuk menentukan rencana ke depan termasuk mendapatkan PAD.
"kita dapat hasil inventarisasi, nilai emisinya sekian, lalu setelah ada aksi mitigasi, aksi penurunan, bisa turun sampai berapa banyak. Berdasarkan data penurunan itu, baru bisa dapat nilai rupiahnya berapa banyak," pungkasnya. (Martha)