Setelah 'Pesta Babi', Kini Muncul Film 'Wanam: Menanam Masa Depan di Tanah Papua'
Suasana peluncuran film dokumenter berjudul "Wanam: Menanam Masa Depan di Tanah Papua" dalam sebuah kegiatan yang digelar di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Kamis (9/7/2026). ANTARA/HO-Yayasan Wardhana Nawasena Network
Suasana peluncuran film dokumenter berjudul "Wanam: Menanam Masa Depan di Tanah Papua" dalam sebuah kegiatan yang digelar di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Kamis (9/7/2026). ANTARA/HO-Yayasan Wardhana Nawasena Network

Papua60detik - Yayasan Wardhana Nawasena Network meluncurkan film dokumenter berjudul 'Wanam: Menanam Masa Depan di Tanah Papua' dalam sebuah kegiatan yang digelar di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Kamis (9/7/2026).

Film tersebut mengangkat kisah transformasi kawasan Wanam di Kabupaten Merauke, Papua Selatan, yang diproyeksikan menjadi salah satu pusat pengembangan ketahanan pangan nasional.

Kemunculan film tersebut tak berselang begitu lama dengan film 'Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita' dengan nonton barengnya  Film 'Pesta Babi' muncul dengan tudingan serius, praktik kolonialisme modern di Papua Selatan. Perampasan hutan adat atas nama proyek pangan dan transisi energi (PSN), kehadiran para tentara dan perlawanan mayarakat adat dengan salib merahnya. 

Sementara  film 'Wanam: Menanam Masa Depan di Tanah Papua' mengisahkan perubahan besar yang terjadi di Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Kawasan yang sebelumnya dikenal sebagai hamparan rawa, lahan basah, dan wilayah dengan akses transportasi terbatas, menurut film itu, kini mulai berkembang menjadi kawasan strategis pengembangan pangan nasional.

Dokumenter tersebut menggambarkan bagaimana pembangunan dilakukan melalui pembukaan akses jalan, pembangunan sistem pengairan, pengelolaan drainase hingga penerapan teknologi pertanian modern yang disesuaikan dengan karakteristik lahan rawa.

Transformasi itu menjadi bagian dari program pengembangan kawasan pangan nasional yang masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN), dengan tujuan memperkuat ketahanan pangan Indonesia di tengah meningkatnya kebutuhan pangan, perubahan iklim serta tantangan geopolitik global.

Film juga memperlihatkan proses panjang pembangunan yang melibatkan berbagai unsur, mulai dari tenaga teknis, pekerja lapangan, pemerintah pusat, pemerintah daerah hingga masyarakat lokal.

Selain menampilkan pembangunan infrastruktur pertanian, dokumenter itu juga menyoroti keterlibatan masyarakat adat dan warga lokal dalam proses pembangunan kawasan Wanam.

Berbagai peluang kerja mulai terbuka melalui pembangunan jalan produksi, pengolahan lahan hingga sektor jasa penunjang lainnya. Aktivitas ekonomi masyarakat pun perlahan meningkat seiring berkembangnya kawasan tersebut.

Film tersebut menekankan bahwa pembangunan tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi pangan, tetapi juga diharapkan mampu menciptakan kesejahteraan masyarakat, membuka lapangan pekerjaan, memperluas akses pendidikan dan layanan kesehatan serta tetap menjaga nilai budaya dan kearifan lokal Papua.

Dokumenter tersebut mencapai puncaknya saat memperlihatkan proses panen padi di kawasan Wanam pada 2025. Momen itu digambarkan sebagai simbol keberhasilan transformasi kawasan rawa menjadi lahan pertanian produktif melalui pengelolaan yang terencana.

Bagi masyarakat setempat, panen bukan sekadar hasil produksi, melainkan lambang lahirnya harapan baru terhadap masa depan ekonomi, kesempatan kerja, dan keberlanjutan pembangunan di tanah Papua.

Melalui film itu, Yayasan Wardhana Nawasena Network mengharapkan masyarakat memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai dinamika pembangunan di Papua sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya literasi digital dan penggunaan media sosial secara bertanggung jawab.

Dokumenter itu juga mengajak publik melihat Papua bukan hanya sebagai wilayah dengan kekayaan alam yang besar, tetapi sebagai bagian penting dari masa depan ketahanan pangan dan pembangunan Indonesia.

Pembina Yayasan Wardhana Nawasena Network Dean Ramella  mengatakan, cita-cita Indonesia untuk mencapai swasembada pangan, swasembada energi hingga penguasaan teknologi akan selalu dihadapkan pada beragam dinamika, termasuk munculnya berbagai narasi yang berkembang di ruang digital.

"Ketika Indonesia berupaya mewujudkan kemandirian melalui swasembada pangan dan energi, akan selalu ada tantangan. Karena itu, masyarakat perlu memiliki kemampuan memilah informasi agar tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang belum tentu terverifikasi," katanya seperti dilansir ANTARA.

Dean menyampaikan media sosial kini telah menjadi ruang pertarungan informasi yang mampu membentuk opini publik secara cepat. Oleh sebab itu, masyarakat diharapkan semakin kritis dalam menerima setiap informasi yang beredar.

Mantan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudi Latif yang hadir dalam peluncuran film itu mengatakan Papua memiliki nilai historis, ekologis, dan geopolitik yang sangat penting bagi Indonesia maupun dunia.

Kekayaan hayati dan sumber daya alam yang dimiliki Papua menjadi aset strategis yang harus dikelola secara bijaksana.

"Papua memiliki kekayaan alam yang luar biasa dan menjadi perhatian dunia. Keunikan flora, fauna, serta potensi sumber dayanya merupakan bagian penting dari masa depan Indonesia," ujar Yudi. (Redaksi)