BPS Sebut Mimika Deflasi, Bukti TPID Mampu Tekan Inflasi
Warga Timika menyerbu operasi pasar murah. Foto: Eka/ Papua60detik
Warga Timika menyerbu operasi pasar murah. Foto: Eka/ Papua60detik

Papua60detik - Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Mimika selama Oktober 2023 mencatat Mimika secara umum mengalami deflasi atau secara harga-harga komoditi mengalami penurunan.

Per Oktober 2023, Mimika mengalami deflasi sebesar 0,39 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 118,53.

"Secara umum kita deflasi, tapi ada komoditas yang tetap inflasi masih tinggi," ujar Kepala BPS Mimika Ouceu Satyadipura dalam rilis Berita Resmi Statistik (BRS), Kamis (2/11/2023). 

Deflasi pada Oktober 2023 terjadi karena  penurunan harga yang ditunjukkan oleh turunnya indeks kelompok pengeluaran pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,27 persen, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,08 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,01 persen, serta kelompok transportasi sebesar 3,92 persen.

Sementara bahan makanan pada Oktober 2023 mengalami deflasi sebesar 0,27 persen. 

Untuk tingkat inflasi bahan makanan tahun kalender (Oktober 2023 – Desember 2022) sebesar 3,92 persen dan tingkat inflasi bahan makanan tahun ke tahun (Oktober 2023 terhadap Oktober 2022) sebesar 2,28 persen.

Gencarnya pemerintah daerah dalam menggelar operasi pasar murah dianggap sebagai berhasilnya kolaborasi dari Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dalam menekan angka inflasi. 

"Ini salah satu bukti kerja TPID dalam menurunkan laju inflasi," katanya. 

Meski demikian, pemerintah diharapkan agar dapat memperbaiki regulasi oprerasi pasar murah agar barang yang dibeli masyarakat tidak diperjualbelikan kembali. 

"Mungkin harus kembali memperbaiki regulasi agar tujuan dari kita untuk menekan harga tercapai, salah satunya di pasar murah agar ada pembatasan pembelian agar barang yang dibeli tidak dijual kembali," jelasnya. 

Sementara, untuk harga komoditi yang masih tinggi di Mimika adalah cabai rawit.  Katanya, walaupun saat ini Mimika mengalami deflasi tapi cabai rawit masih dalam inflasi. 

"Angka inflasinya tidak penting tapi efek dari inflasi ke masyarakat itu yang penting, kalau harga-harga murah dan masyarakat bisa mengakses itulah yang penting. Inflasi itu hanya sekedar ukuran," pungkasnya. (Eka)