Dari Sagu, Lukas Wayawiyuta Sekolahkan Anak Hingga Perguruan Tinggi
Papua60detik - Lukas Wayawiyuta seorang pengusaha tepung sagu asli suku kamoro, berhasil mengembangkan perekonomian keluarganya dan menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi.
Pria 54 tahun itu merupakan salah satu anggota Kelompok Aimikamu atau dalam bahasa Kamoro berarti ayo bekerja di Distrik Iwaka. Kelompok ini merupakan binaan Dinas Ketahanan Pangan yang sudah berjalan selama 5 tahun
Lukas mengatakan, produksi tepung sagu punya tantangannya sendiri. Terutama cuaca yang Timika yang kerap hujan karena proses pengeringannya masih mengandalkan sinar matahari.
“Jumlah produksi sebulan tidak menentu tergantung permintaan pasar dan tergantung cuaca. Kalau hujan maka proses produksi terhenti karena mengandalkan sinar matahari untuk proses pengeringan sagu,” kata Lukas saat ditemui di Puskesmas Timika Jaya, Sabtu (24/3/2024)
Dari bisnis tepung sagu ini, Lukas bisa menyekolahkan kedua putranya ke perguruan tinggi di Pulau Jawa.
“Yang tua sudah lulus, sekarang sudah bekerja dan satu lagi masih kuliah,” ujarnya
Sementara itu, salah satu rekan pengusaha tepung sagu dari Kelompok Paweyari, Kasianus Maupeauta mengatakan, mereka menjual produk tepung sagu melalui toko tani milik Dinas Ketahanan Pangan serta melalui pasar murah dan pameran UMKM Dinas Ketahanan Pangan.
Kasianus menjelaskan, saat ini produk olahan tepung sagu dari kelompoknya dan kelompok milik Lukas belum bisa menembus pasar secara leluasa karena masih terkendala izin edar dari Pemerintah daerah.
“Ada beberapa supermarket dan minimarket untuk dipasarkan tapi kami belum punya izin edarnya. Kalau sudah punya, bisa kami pasarkan ke supermarket atau minimarket,” ujarnya.
Tepung sagu sendiri dijual dengan harga Rp25 ribu per kilo.
Lukas dan Kasianus saat ini sedang mengupayakan izin edar produk dengan mengikuti Penyuluhan Keamanan Pangan (PKP) sebagai salah satu syarat proses pengurusan izin edar produk. (Faris)