Insiden Berdarah di Puncak, TNI Bantah Tembak Anak-anak
Ilustrasi senjata api
Ilustrasi senjata api

Papua60detik - Koops TNI Habema angkat bicara terkait kabar penembakan yang mengakibatkan korban masyarakat sipil termasuk anak-anak di Kabupaten Puncak, Papua Tengah. 

Kapen Koops TNI Habema, Letkol Inf Wirya Arthadiguna menegaskan, informasi yang beredar tidak utuh dan mencampuradukkan dua peristiwa berbeda yang terjadi pada 14 April 2026 di lokasi terpisah.

Ia menjelaskan, peristiwa pertama terjadi di Kampung Kembru, saat patroli TNI merespon laporan keberadaan kelompok bersenjata. Kontak tembak tak terhindarkan setelah aparat mendapat serangan. Empat orang dari kelompok bersenjata dilaporkan tewas. Parajurit TNI menyita sejumlah barang bukti, mulai dari senjata rakitan, amunisi, hingga alat komunikasi dan atribut yang mengarah pada aktivitas kelompok bersenjata.

Sementara itu, insiden kedua terjadi di Kampung Jigiunggi. Seorang anak dilaporkan meninggal dunia akibat luka tembak. Wirya memastikan tidak ada keterlibatan prajurit dalam kejadian tersebut dan menyatakan kasus masih dalam penyelidikan untuk mengungkap penyebab pasti.

Katanya,, kedua kejadian itu tidak saling berkaitan.

“Tidak ada aktivitas prajurit TNI di Kampung Jigiunggi saat peristiwa penembakan terjadi,” ujar Wirya dalam keterangan tertulis, Sabtu (18/4/2026). 

Ia menekankan komitmen TNI untuk bertindak profesional, transparan, dan akuntabel.


Anak-anak korban konflik bersenjata di Kabupaten Puncak. Foto: Istimewa

Di sisi lain, narasi berbeda disampaikan oleh TPNPB-OPM melalui juru bicaranya Sebby Sambom. Mereka menuding militer Indonesia melakukan operasi udara dan darat di wilayah Puncak sejak 13 April 2026, termasuk dugaan serangan bom di Kampung Guamo, Distrik Pogoma, yang disebut berdampak pada warga sipil dan memicu pengungsian.

TPNPB juga mengklaim adanya korban sipil dalam operasi lanjutan di Distrik Kembru dan sekitarnya, termasuk anak-anak dan lansia. 

TPNPB mencatat sembilan korban tewas dalam serangan operasi yang dilakukan TNI, mereka adalah Para Walia, Wundili Kogoya, Ekimira Kogoya, Inikiwewo Walia, Kikungge Walia, Deremet Telenggen, Pelen Kogoya (65), Tiagen Walia dan Amer Walia. 

Terkait kejadian di Kabupaten Puncak, Menteri HAM. Natalius Pigai telah menyampaikan pernyataan resmi. Ia meminta TNI memberikan klarifikasi atas jatuhnya korban sipil.

Ia menegaskan, konflik antara TNI dan TPNPB OPM tidak boleh mengorbankan warga sipil. Pigai meminta Komnas HAM segera turun tangan melakukan investigasi. (Eka)