Demam Babi Afrika Mengganas di Timika, Peternak Rugi Miliaran Rupiah
Papua60detik - Wabah African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika di Mimika sedang di puncak-puncaknya. Sehari kematian ternak babi bisa mencapai 100 ekor.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Mimika, drh Sabelina Fitriani menyebut per Jumat (16/2/2024) total ternak babi mati karena ASF sudah mencapai 1.185 ekor.
Baca Juga: Bakal Diresmikan Menkop, Koperasi Merah Putih di Atuka Diproyeksi Jadi Penggerak Ekonomi Lokal
Ia menaksir kerugian peternak babi akibat ganasnya wabah ASF telah mencapai angka miliar rupiah.
“Penyakit ASF ini menimbulkan kerugian ekonomi sangat besar, karena mortalitas atau kematiannya bisa 100 persen. Misalnya rata-rata kita hitung 10 juta per ekor, sudah mencapai balasan miliar,” ungkapnya saat ditemui wartawan di lokasi penguburan bangkai babi di lahan yang disediakan Pemkab Mimika, Jumat (16/2/2024).
Ia mengimbau kepada peternak untuk segera memisahkan babi yang sudah memiliki ciri-ciri terpapar virus dengan babi lainnya. Kandang yang ditempati babi yang terjangkit virus ASF yang telah mati pun harus dikosongkan dan untuk sementara tidak diisi ternak.
"Jadi kandang harus istirahat minimal 6 bulan setelah semua babi dimusnahkan, agar virusnya tidak menular kepada babi yang baru masuk ke kandang," tuturnya.
Pasalnya, virus ini bisa bertahan hingga 100 hari pada kotoran dan air kencing babi. Di daging babi bertahan sampai 6 bulan meski disimpan di dalam kulkas.
Ia menyarankan mencuci bersih kandang dengan sabun pembunuh bakteri dan dibiarkan kosong minimal 6 bulan.
"Kalau perlu, peternak harus cari lokasi baru untuk memulai usaha beternak babi, agar bisa aman dari penularan virus, karena virus ini sangat kuat. Penularannya sangat cepat karena bisa menempel pada pakaian manusia," katanya lagi.
Maka dari itu, ia melarang keras peternak yang ternak babinya terpapar ASF berkunjung ke kandang babi yang masih sehat.
"Hingga hari ini, sudah ada 1185 babi yang sudah terpapar virus dan sudah dikuburkan oleh petugas kami, dan juga oleh warga sendiri," ungkapnya.
Sabelina enggan mempublikasikan lokasi penguburan bangkai babi virus ASF, tapi ia memastikan lokasinya aman dan jauh dari pemukiman masyarakat.
ASF hingga belum ditemukan vaksin pun obatnya. Sabelina meminta para peternak menjaga ketat babi mereka yang masih sehat dan menjaga kebersihan kandang.
"Jangan biarkan orang lain berkunjung ke kandang. Jaga jenis makanannya. Tetap berikan serum dan vitamin yang kami bagikan secara gratis kepada semua peternak," imbuhnya. (Faris)