Di Puskesmas Timika, Minum Obat Malaria Dulu Sebelum Pulang
Ilutrasi nyamuk malaria
Ilutrasi nyamuk malaria

Papua60detik- Malaria memang masih menjadi pergumulan Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika. Mimika  menjadi penyumbang terbesar di Provinsi Papua yakni 100/1000 penduduk

Di Puskesmas Timika, kunjungan bisa mencapai 30-50 persen setiap harinya karena malaria. Untuk menurunkan angka kasus malaria Puskesmas Timika punya tiga langkah.

Pertama, setiap pasien yang ditemukan positif saat melakukan pemeriksaan di Puskesmas diwajibkan meminum obat di depan petugas kesehatan sebelum pulang ke rumah. Ini untuk memutus rantai penularan.

Pasalnya meminum obat dosis pertama akan memastikan parasit malaria di dalam tubuh pasien sudah bisa berkurang.

“Lain kalau kita cuma kasih obat, kalau misalnya berobat pagi hari bisa saja minum obatnya nanti malam atau justru ditunda minum obatnya sampai keesokan harinya, sedangkan jumlah parasitnya dalam darah itu banyak. Tanpa adanya obat yang membunuh parasit ketika digigit nyamuk maka bisa menularkan ke orang lain,” jelas Kepala Puskesmas Timika, dr Moses Untung saat ditemui, Rabu (14/10/2020).

Langkah ini juga menurutnya, untuk mengedukasi pasien meminum obat tepat waktu, tepat dosis dan sampai selesai untuk mencegah kekambuhan. Apalagi, hampir 50 persen kasus malaria di Mimika adalah kasus kambuh. Khususnya malaria jenis tersiana.

Langkah kedua, pembagian kelambu massal.  Masing-masing rumah mendapatkan jumlah kelambu yang berbeda sesuai jumlah kelompok tidur dan jiwa.

“Ini sudah berjala selama tiga minggu. Diharapkan semua masyarakt memanfaatkan kelambu untuk mencegah malaria dengan menghindari gigitan nyamuk,” katanya.

Ketiga, menjalin kemitraan dengan layanan kesehatan swasta seperti dokter praktek dan klinik untuk mendapatkan gambaran atau jumlah pasti angka kasus malaria yang terjadi di seluruh wilayah kerja Puskesmas Timika.

“Sehingga dengan nanti kami menjalin kemitraan dengan mereka (dokter dan klinik) gambaran malaria yang terjadi di klinik dan dokter-dokter praktek yang ada bisa kami (Puskesmas) tarik dan gabungkan dengan gambaran yang ada di Puskesmas sehingga bisa menghasilkan gambaran malaria yang sebenarnya yang ada di wilayah Puskesmas Timika,” jelas dr Moses.

Hingga Juli 2020, jumlah pasien malaria yang berkunjung di Puskesmas Timika yakni 3.939 kasus. Jumlah ini kata dr Moses jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan kasus yang ada di klinik dan dokter praktek.

“Jadi bisa diambil kesimpulan bahwa jumlah yang kita ada saat ini sebenarnya  ini bukan gambaran real kejadian malaria di wilayah kerja kita,” ungkapnya.

Puskesmas Timika memiliki wilayah kerja di lima kelurahan dan satu kampung yakni Kelurahan Kwamki Baru, Kelurahan Koperapoka, Kelurahan Dingo Narama, Kelurahan Kebun Sirih, Kelurahan Otomona dan Kampung Nayaro. Wilayah kerjanya di pusat kota yang menjadi area penularan paling tinggi. (Anti Patabang)