DLH Mimika Perkuat Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca
Kepala Bidang Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Mimika, Algertho Asmuruf, foto: Martha/Papua60detik
Kepala Bidang Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Mimika, Algertho Asmuruf, foto: Martha/Papua60detik

Papua60detik - Pemanasan global sudah menjadi isu dunia. Peningkatan emisi gas rumah kaca kini turut dirasakan Indonesia, dari perubahan pola cuaca hingga meningkatnya risiko kekeringan dan krisis sumber air.

Kepala Bidang Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Mimika, Algertho Asmuruf mengatakan Pemkab Mimika sedang mensosialisasikan pengendalian emisi gas rumah kaca sekaligus pengenalan dan penginputan data inventarisasi gas rumah kaca melalui aplikasi SIGN-SMART.

Beberapa instansi yang terlibat dalam program ini adalah instansi yang berkaitan langsung dengan sumber dampak emisi gas rumah kaca. Seperti sektor kehutanan, perindustrian, dan perhubungan. 

"Ini bertujuan untuk penanganan perubahan iklim, baik melalui adaptasi maupun mitigasi perubahan iklim. Jadi kita perlu data dari berbagai sumber," kata Algertho saat diwawancarai, Senin (24/08/2026). 

Algertho menjelaskan gas rumah kaca merupakan gas yang dihasilkan dari berbagai aktivitas manusia. Beberapa di antaranya adalah karbon dioksida (CO₂) dan metana (CH₄) yang berkontribusi terhadap pemanasan global.

Peningkatan emisi dari berbagai aktivitas, termasuk sektor industri dan kehutanan, dapat memperburuk pemanasan global dan pada berdampak pada kondisi lingkungan, seperti kekeringan. Salah satu yang sering dikaitkan adalah fenomena El Nino. 

"Kalau dulu sumber air terasa dekat, sekarang masyarakat harus mencari sumber air yang lebih jauh. Ini menjadi salah satu gambaran dampak perubahan kondisi lingkungan yang kita rasakan," ujarnya.

DLH juga membentuk Pokja yang akan tergabung dalam aplikasi SIGN-SMART. Pokja ini kemudian menjadikan sumber data, mulai dari sektor  kehutanan, perhubungan, pertania, dan perindustrian.  

Data yang terkumpul akan diverifikasi dan dianalisis oleh DLH sebagai leading sector. Hasil analisis tersebut akan menjadi dasar untuk mengetahui tingkat dampak dan pencemaran yang ditimbulkan. Setelah itu, akan ada solusi apa yang akan diterapkan untuk mengurangi dampak pencemaran. 

"Data-data misalnya luasan hutan, kebakaran hutan, data kendaraan sesuai type masing-masing karena menghasilkan gas CO2. Dari hasil kajian kita bisa tetapkan tingkat pencemarannya apakah berat atau ringan," pungkasnya. (Martha)