Estuary Structure Project PT Freeport Libatkan Masyarakat Adat
Penanaman struktur bambu dalam project estuary structure PTFI oleh kontraktor lokal Suku Kamoro. Foto: Faris/Papua60detik
Penanaman struktur bambu dalam project estuary structure PTFI oleh kontraktor lokal Suku Kamoro. Foto: Faris/Papua60detik

Papua60detik - Limbah tailing dari pertambangan PT Freeport Indonesia  (PTFI) hingga saat ini masi menjadi pekerjaan rumah (PR) kerena volumenya yang cukup besar.

PTFI sendiri telah mendapatkan izin dari Pemerintah Pusat untuk mengendapkan tailing di dalam area yang telah ditentukan atau disebut dengan Mod ADA.

Untuk menghijaukan endapan tailing di area Modified Ajkwa Deposition Area (Mod ADA) PT Freeport Indonesia gandeng kontraktor lokal pemilik hak ulayat.

General Superintendent Reclamation Biodiversity and Education, PT Freeport Indonesia, Robert Sarwom mengatakan project ini merupakan bagian dari kajian komprehensif terhadap pengelolaan tailing. Strukturnya terbuat dari bambu dan geotube.

“Pembuatan struktur (bambu) dengan tujuan menangkap sedimen sebanyak mungkin dan membuat daratan. Pada akhir project ini sedimen akan membentuk daratan. Daratan inilah yang akan kami tanami mangrove,” kata Robert, Selasa (12/2/2024).

Project struktur bambu ini dimulai sejak November 2023. Targetnya per struktur yang dibangun sepanjang 400 meter, terbagi menjadi 5 bagian. Target per tahun sampai 500 hektar. 

Meski timbul beberapa kendala seperti kondisi alam dan ketersediaan bahan baku, ia yakin akan selesai sesuai target. Saat ini progressnya sudah mencapai kurang lebih 30 sampai 40 persen dari project yang direncanakan. 

“Penanam mangrove yang akan dilakukan dalam program Project Estuary Structure ini akan melengkapi usaha kolonisasi mangrove pada pulau-pulau baru yang terbentuk di muara yang telah kami lakukan dari 2004. Sampai saat ini total penanam yang telah dilakukan sejumlah 800 hektar,” katanya.

Sementara itu, Senior Officer Community Economi Development William Watopa mengatakan project struktur bambu tersebut melibatkan 18 kontraktor lokal, dari Masyarakat 5 Dasar Kampung (Daskam) Timika, binaan PTFI. 

Project ini dibagi menjadi beberapa bagian pekerjaan, yaitu melakukan penanaman struktur bambu,  pengumpulan debris atau isian yang akan dimasukkan di dalam bambu yang telah ditanam, mensuplay bambu, serta transportasi material-material ke lokasi.

“Dari kontraktor ini melibatkan kurang lebih 160 karyawan. Per kontraktor 10 karyawan dari masing-masing desa sehingga masyarakat Kamoro dilibatkan secara penuh dalam project ini,” jelasnya. 

William mengatakan, pendampingan terhadap 18 kontraktor ini banyak menghadapi tantangan. Rata-rata merupakan kontraktor baru utusan dari 5 kampung Daskam yang tidak mempunyai latar belakang dan tidak berpengalaman menjadi kontraktor.

“Namun melalui pendampingan, pengembangan dan monitoring yang kami lakukan, mereka bisa sampai tahap kontraktor dengan standar pengerjaan yang diinginkan oleh PT Freeport,” pungkasnya

Salah satu kontraktor PT Putra Tafua Mandiri, Thomas Too mengucapkan terima kasih kepada PTFI karena telah memberikan kepercayaan dan memberdayakan masyarakat Kamoro sebagai pemilik hak ulayat.

“Saya dikasih kontrak oleh perusahaan untuk pencarian debris atau isian, dari hasil pekerjaan ini sangat bermanfaat bagi kami, sehingga kami masyarakat sebagai masyarakat adat punya aktivitas untuk menghidupi keluarga kami. Dalam artian kami diberikan kesempatan untuk bersaing,” katanya. (Faris)