Jalan Lain Ronny Wamang: Jadi Petani-Pengusaha Keladi
Ronny Wamang menimbang hasil panen keladi dari lahannya. Foto: Dokumentasi pribadi Ronny Wamang
Ronny Wamang menimbang hasil panen keladi dari lahannya. Foto: Dokumentasi pribadi Ronny Wamang

Papua60detik - Ronny Wamang memilih jalan lain. Ia jadi petani. Padahal anak muda sepertinya, putra asli Amungme punya banyak pilihan, jadi politisi muda atau bekerja di PT Freeport Indonesia (PTFI), misalnya.

Tapi Ronny mantap memilih jadi petani. Mengolah sendiri lahannya di Kwamki Narama. Fokusnya ke keladi lokal. Usaha itu yang kemudian mengantarkannya jadi pengusaha.

Karena kerja keras dan konsistensinya ia kini jadi salah satu pemasok keladi di PT Pangan Sari Utama (PTPSU) yang menyediakan makanan untuk pekerja PTFI.

Masih muda, baru 24 tahun. Ia pernah oba-coba kuliah, ia tak selesai, tanpa gelar sarjana. 

Sempat diterima kerja di perusahaan kontraktor PTFI, ia putuskan berhenti. Alasannya sederhana, masuk dalam sistem kerja sebagai karyawan membuatnya tak bebas mengembangkan diri sesuai passionnya.

Ia mulai membuka lahannya seluas 4 hektar di 2021, ia tanami macam-macam. Tahun 2023 ia buka lagi 2 hektar. Kali ini ia fokus menanam keladi.

Panen terakhir, Selasa (14/11/2023) lahannya tak kurang menghasilkan satu ton keladi.

Karena harus memenuhi Purchasing Order (PO) di PTPSU tiga kali seminggu, Ronny kini membeli keladi dari para petani lokal. Ia menghindari mendatangkan keladi dari luar. Itu membuatnya sah jadi petani cum pengusaha.

"Saya tidak datangkan keladi dari luar meski harganya lebih murah. Saya ingin memberdayakan dan sejahterakan masyarakat di sini. Makanya saya beli dengan harga lebih mahal dan sistemnya cash. Saya selalu ajak masyarakat tanam keladi," katanya kepada Papua60detik, Kamis (17/11/2023).

Ronny sampai di titik sekarang tentu bukan perkara mudah. Ronny cerita, sekali waktu ia pernah keliling Kwamki Narama membeli buah nangka muda warga buat dijual kembali. Toh seribu atau sejuta langkah selalu dimulai dari langkah pertama. 

"Banyak yang tanya, kenapa kerja itu? Itu bukan pekerjaan orang Papua. Saya diam saja. Modal nekat saja, di mana ada peluang saya hajar," katanya.

Kuncinya kata Ronny, bekerja keras dan terus belajar. Ia dan teman-teman petaninya punya organisasi sendiri, Petani Milenial Timika. Anggotanya sekitar 25 petani muda Papua. Komunitasnya kini jadi binaan Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Perkebunan dan Hortikultura Mimika.

"Panen terakhir kemarin, empat staf Dinas Pertanian datang saksikan sekaligus serahkan bantuan secara simbolis. Pemerintah sudah berkomitmen akan terus mendukung kami," kata Ronny.

Mendapat dukungan banyak pihak membuatnya makin semangat. Ia mengangankan, lewat keladi petani lokal bisa sejahtera.

Dan bukankah apa yang diupayakan Ronny bagian dari diversifikasi pangan? Bahwa makanan pokok di negeri ini tak hanya beras. Budidaya keladi tidak bisa tidak adalah bagian dari perjuangan kedaulatan pangan. (Burhan)