Jalan Ninja Ronny Wamang: Fokus Jadi Petani
Ronny Wamang menunjukkan di lahan pertanian hidroponik miliknya. Foto: Eka/ Papua60detik
Ronny Wamang menunjukkan di lahan pertanian hidroponik miliknya. Foto: Eka/ Papua60detik

Papua60detik - Ronny Wamang telah empat tahun menggeluti bidang pertanian dengan memanfaatkan lahan miliknya di Distrik Kwamki Narama. 

Pria yang terlahir sebagai Gen Z ini mengaku senang menjadi petani. Ia tidak malu meski pekerjaannya setiap hari berurusan seputaran tanah dan tanaman. Memang pernah ia dapat ejekan dari temannya, namun itu justru bikin dia makin tekun. 

"Ada orang terdekat pun pernah mengejek saya dulu. Saat itu saya cari nangka muda keliling Kwamki Narama, SP12 dan seluruh Mimika. Saya tidak malu kalau jadi petani, bagi saya biasa-biasa saja, hingga sekarang," kata Ronny saat ditemui di kebunnya, 27 Februari 2025.

Ditanya soal pindah profesi, dia bilang masih bertahan dan fokus menjadi petani. Tani sudah jadi jalan ninjanya.

"Bertani bagian dari hidup saya, apalagi saya ini kan orang Papua, terutama orang gunung," katanya. 

Di atas lahannya ia menanam jeruk peras, jeruk nipis, pepaya buah, buah naga, selada, nanas, dan berbagai tanaman lainnya.

"Bisa mencapai 1 ton per bulan dari keseluruhan yang kami tanam di situ. Yang terutama, kami kirim ke perusahan-perusahan yang bermitra, sisa dari itu, kami jual ke pasar," jelas dia. 

Pertaniannya sudah jenis yang modern punya. Ia pekerjakan sekitar 10 orang membantu menjaga dan merawatnya.

Soal budidaya pangan lokal, katanya dia pernah bikin program kerja sama dengan Dinas Pertanian dan Koperasi Sarima. Fokusnya pada pemberdayaan masyarakat melalui budidaya keladi.

"Waktu itu dinas pertanian sangat mendukung program tersebut, tetapi sayangnya PO dari PT Pangan sari melalui Koperasi Sarima telah putus. Alasannya PO oustanding, dan program itu pun gagal," ungkapnya. 

Sampai di titik saat ini tentu bukan perkara gampang. Kondisi cuaca di Timika yang tak menentu jadi tantangan bagi yang berprofesi sebagai petani.

Bagi Ronny, yang penting adalah tak gampang patah dan mau belajar. Sebagai gen Z, ia banyak memanfaatkan platform seperti YouTube buat belajar. 

"Saya belajar bertani modern melalui orang Jawa, ada banyak teman-teman saya, semua orang Jawa. Saya juga banyak belajar di YouTube. Dan kami ada kelompok tani milenial, binaan Dinas Pertanian," pungkasnya. (Eka)