John Rettob: Yang Bilang Warga Mimika Miskin itu Tidak Etis
Mantan Plt Bupati Mimika, Johannes Rettob. Foto; Martha/Papua60detik
Mantan Plt Bupati Mimika, Johannes Rettob. Foto; Martha/Papua60detik

Papua60detik - Mantan Plt Bupati Mimika, Johannes Rettob mengaku tidak terima ketika masyarakat Mimika dikatakan miskin sebagaimana sering disebut akhir-akhir ini. 

Ia mengatakan, saat ini pendapatan bruto Mimika berada pada angka 10 persen. Artinya rata-rata masyarakat Mimika berpengahasilan baik. 

Menurutnya, peningkatan angka kemiskinan di Mimika malah terjadi karena jumlah penerima Bantuan Sosial (Bansos). Karena ingin dapat Bansos, warga mencatatkan diri sebagai orang miskin. Padahal, untuk dikategorikan miskin dan berhak mendapat Bansos, harus memenuhi sedikitnya 24 kriteria 

"Angka kemiskinan di Mimika itu kenapa tinggi? Itu karena mental Bansos. Karena dapat Bansos mereka ramai-ramai menyamarkan diri menjadi orang miskin. Padahal saat terima Bansos dia datang pakai mobil, emas, kalung, gelang, luar biasa," ungkap John Rettob,  Minggu (08/09/2024). 

Soal opini yang menyebut Suku Kamoro tidak memiliki rumah layak huni dan miskin menurutnya karena ketidakpahaman. Suku Kamoro terbiasa hidup nomaden. Hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari ikan,  udang, kepiting. 

Dengan pola hidup demikian, Suku Kamoro tak mungkin membangun rumah di pinggir pantai yang bukan tanahnya. Biasanya mereka bangun tempat sementara untuk tinggal. Di kampungnya sendiri, mereka punya rumah masing-masing. 

"Tetapi karena nomaden, itu mereka harus berpindah-pindah. Orang Kamoro menyebut hal ini kapiri kame. Itu sudah biasa dan sudah ada dari dulu sampai sekarang. Terkait dengan masyarakat miskin saya sebagai pemerintah tidak terima, apalagi dibilang masyarakat miskin pada Orang Kamoro," tambahnya. 

Sebagai ketua penurunan angka kemiskinan Kabupaten Mimika, ia menegaskan secara umum tidak ada masyarakat miskin di Mimika.

"Kalau ada yang mengatakan masyarakat itu miskin, tidak ertislah. Saya sampaikan itu tidak etis," tandasnya. (Martha)