Kankung Timika dan Inflasi Karenanya
Papua60detik - Sepanjang 2020,Kabupaten Mimika tercatat mengalami inflasi sebesar 4,11 persen.
Persentase ini merupakan yang paling tinggi diantara dua kota lainnya di Papua yang melakukan survey inflasi yakni Jayapura sebesar 0,76 persen dan Merauke 1,07 persen.
Baca Juga: Bakal Diresmikan Menkop, Koperasi Merah Putih di Atuka Diproyeksi Jadi Penggerak Ekonomi Lokal
Tingginya inflasi ini terjadi karena adanya penambahan harga yang ditunjukkan dengan perubahan indeks pada kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 4,25 persen.
Adapun mayoritas penyebab inflasi tergolong ke dalam sub kelompok makanan. Komoditas penyebab utama inflasi di Mimika adalah kangkung dengan kontribusi 0,8 persen, kemudian susul cabe rawit 0,7 persen, ikan kembung 0,5 persen, ikan cakalang 0,3 persen dan emas periasan 0,2 persen.
Tingginya faktor pendorong inflasi dari kangkung sampai membuat heran Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob. Menurutnya Mimika masih memiliki banyak lahan kosong, namun sayangnya sayuran yang seharusnya bisa dikembangkan di Mimika justru menjadi penyebab utama inflasi.
“Lucu juga eh, masa kangkung padahal tanah luas di sini, cocok tanam kangkung, tapi kenapa kangkung bisa menyebabkan inflasi, tapi itulah kenyataannya, dan ini adalah tugas kita menangani persoalan ini. Ternyata kangkung belum banyak di Mimika, tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat di Mimika,” ungkapnya pada kegiatan high level meeting tim implementasi pengendalian inflasi daerah Selasa (30/3/2021) di Hotel Grand Mozza Timika.
Kepala Perwakilan BI Papua, Naek Tigor Sinaga mengajak, kasus ini jadi bahan evaluasi. Bagaimana bisa harga kankung naik signifikan dan berkontribusi besar pada angka inflasi di 2020.
“Jadi kalau dihitung, harga kangkung itu sudah naik sebesar 51 persen di tahun 2020. Dari Januari sampai Desember,” katanya.
Tapi meski inflasi tertinggi terjadi di Mimika, namun untuk bobot tertinggi terdapat di Jayapura yakni 57 persen, kemudian Merauke sebesar 18 persen dan Mimika sebesar 25 persen.
Tingginya bobot di Jayapura dipengaruhi oleh jumlah penduduk dan daya beli yang besar.
“Mimika ini baru disurvei untuk masuk sebagai kota inflasi d tahun 2020 kemarin. Jadi memang masih relatif baru, tapi sudah memiliki bobot 25 persen. Seperti yang dikatakan pak Wabup dan Wagub kemarin bahwa Mimika ini salah satu sentra atau penyanggah dari 9 kabupaten yang memang sangat tergantung dari Mimika. Jadi saya pikir ini merupakan salah satu kunci juga untuk bisa melakukan pengendalian harga. Tentunya ini dapat berpengaruh kepada harga-harga di daerah-daerah tetangga,” jelasnya. (Anti Patabang)