Malam Paskah di Timika, Uskup Bernardus Angkat Isu Kemanusiaan & Lingkungan
Papua60detik - Perayaan Malam Paskah, Sabtu (04/04/2026), Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, dalam homilinya menyoroti dua persoalan yang terjadi di Indonesia khususnya di Tanah Papua.
Dua persoalan besar yang disorotnya, yaitu kejahatan terhadap kemanusiaan dan kerusakan lingkungan hidup.
Ia mengungkapkan keprihatinan mendalam atas situasi konflik yang terus terjadi di Papua. Mulai dari bentuk kekerasan skala kecil maupun besar, telah menyebabkan banyak korban jiwa dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, dewasa hingga orang tua.
Penyebab kematian ini adalah karena konflik bersenjata, karena konflik kepentingan, konflik kesombongan, konflik main kuasa sendiri.
"Di Papua setiap hari kita dibanjiri oleh berita kematian manusia, mulai dari Merauke sampai Sorong. Kalau ini yang terus terjadi di Indonesia ini adalah kejahatan. Kita semua merayakan Paskah, percuma saja. Kita merayakan Paskah hanya sebagai seremonial saja bukan sungguh-sungguh mengakhiri konflik. Kita ini hidup sebagai saudara dan sahabat dalam Kristus," ungkapnya.
Konflik tersebut telah mengorbankan banyak nyawa, baik dari kalangan sipil maupun aparat keamanan. Ia pun menekankan pentingnya dialog sebagai jalan keluar.
"Konflik ideologi NKRI harga mati mengorbankan ribuan nyawa baik oleh rakyat sipil maupun OAP, dan militer. Sudah ribuan, berapa jenderal yang sudah mati? Tetapi ini tetap dipertahankan hanya karena ideologi NKRI harga mati, merdeka harga mati. Memangnya tidak ada dialog? Memangnya hati manusia itu binatang?" ujarnya.
Uskup juga menyinggung insiden penembakan terhadap warga sipil di Dogiyai yang menimbulkan korban jiwa, termasuk seorang lansia yang tidak bersalah tertembak dan tewas. Ada juga anak remaja. Ia menilai tindakan tersebut sebagai bentuk pelanggaran kemanusiaan yang tidak dapat dibenarkan.
Ia pun menyerukan agar Presiden Prabowo Subianto beserta jajaran pemerintah hingga pemerintah daerah serta semua pihak yang terlibat konflik, termasuk kelompok TPNPB , duduk bersama dan menyelesaikan persoalan melalui dialog damai. Bahkan keterlibatan pihak ketiga seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam upaya penyelesaian konflik.
"Pada malam Paskah ini, saya mengajak semua yang berkonflik, Presiden Prabowo dan semua jajarannya, MPR pusat, DPR, semua pemerintah daerah, kelompok TPNPB, berdialog menyelesaikannya. Pihak ke tiga, PBB dan sebagainya, mohon supaya hadir menyelesaikan permasalahn ini. Martabat manusia adalah citra Allah wajah Kristus imagode, bukan binatang," tegasnya.
Selain persoalan kemanusiaan, ia menyoroti kerusakan lingkungan yang terjadi akibat eksploitasi Sumber Daya Alam (SDA) secara berlebihan. Ia mengkritik praktik-praktik yang dilakukan oleh kelompok oligarki yang dinilai merusak hutan dan mengabaikan hak masyarakat adat.
Seperti hasil diskusinya bersama LSM dari pulau-pulau kecil di Maluku yang menceritakan bahwa pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit dan pertambangan telah mengancam keberlangsungan hidup masyarakat lokal di sana. Masyarakat yang ribuan tahun hidup di hutan, malah terancam dengan adanya aktivitas tersebut. Dan saat ini, hal tersebut sedang terjadi di Papua.
Menurutnya, peristiwa di Sumatera itu sudah menjadi pelajaran besar bagi seluruh orang Indonesia. Ia menegaskan bahwa alam bukanlah sekadar alam, Tuhan menciptakan itu secara teratur dan terstruktur, tetapi manusia justru menghancurkannya demi kepentingan pribadi.
"Oligarki menjadikan negara sebagai sarana kepentingannya. Negara hanya sebagai alat untuk ditumpangi. Lalu atas nama Negara membuat kebijakan menghancurkan semuanya," tambahnya.
Perusakan lingkungan merupakan bentuk kejahatan yang harus dihentikan. Dalam pesannya, uskup mengajak para pelaku menghentikan praktik tersebut dan bertobat. Momen perayaan Paskah harus menjadi momentum untuk memperjuangkan perdamaian, keadilan, dan kelestarian ciptaan.
"Pulau-pulau kecil tidak perlu dieksploitasi. biarkan pulau itu supaya indah, tetap menampilkan wajah Tuhan. Jangan semua dihancurkan. Jadi oligarki-oligarki yang tamak dan rakus ini, semoga anda stop dan bertobat," pungkasnya. (Martha)