Mendikdasmen: Nasib Guru Honorer Dibahas Bersama Kementerian Terkait
Papua60detik - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menyatakan nasib guru honorer atau non-aparatur sipil negara (ASN) untuk tahun 2027 akan dibahas bersama kementerian terkait.
Abdul Mu’ti memastikan para guru non-ASN masih tetap dapat bekerja hingga akhir tahun 2026 meskipun pemerintah tengah menyiapkan kebijakan penataan tenaga honorer secara nasional.
Baca Juga: Workshop Tujuh Dimensi Lansia Tangguh, Dinkes Mimika Proyeksi Para Lansia Tetap Produktif
“Guru-guru non-ASN itu masih bisa bekerja sampai akhir tahun ini. Untuk tahun 2027 sudah kami bicarakan dengan kementerian terkait, nanti hasilnya bagaimana baru bisa kami sampaikan,” kata Abdul Mu’ti saat berkunjung ke Kota Sorong, Papua Barat Daya, Selasa (26/5/2026) seperti dikutip dari ANTARA.
Ia mengatakan pemerintah memahami peran penting guru honorer dalam menjaga keberlangsungan proses belajar mengajar, khususnya di daerah yang masih mengalami kekurangan tenaga pendidik.
Menurut Abdul Mu'ti, keberadaan guru non-ASN masih sangat dibutuhkan untuk mendukung pelayanan pendidikan di berbagai wilayah, termasuk daerah terpencil dan terluar.
Selain membahas keberlanjutan status guru honorer, Kemendikdasmen juga terus mendorong peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru melalui berbagai program strategis.
Salah satunya melalui program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) bagi guru yang belum memiliki kualifikasi pendidikan Diploma IV (D4) atau Strata 1 (S1).
Pemerintah, kata dia, menargetkan sebanyak 150 ribu guru mengikuti program RPL pada tahun ini dengan dukungan beasiswa sebesar Rp3 juta per semester.
Ia menjelaskan peningkatan kualifikasi pendidikan tersebut penting agar guru dapat mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG) dan memperoleh sertifikasi yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan.
“Kalau mereka sudah memiliki kualifikasi D4 atau S1, nanti dapat mengikuti program PPG dan ketika memenuhi ketentuan bisa memperoleh tunjangan sertifikasi,” kata Abdul Mu'ti.
Selain itu, Kemendikdasmen memperkuat kompetensi guru melalui pelatihan pembelajaran mendalam (deep learning), coding, kecerdasan buatan, bimbingan konseling, hingga pelatihan sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM).
Abdul Mu’ti menegaskan kualitas guru menjadi faktor utama dalam meningkatkan mutu pendidikan nasional.
“Sebagus apa pun teknologi dan sarana prasarana sekolah, kalau guru-gurunya tidak berkualitas maka pendidikan tidak akan mencapai hasil maksimal,” katanya. (Redaksi)