Kejar Target BABS 2027, Yayasan Rumsram Latih Fasilitator
Papua60detik - Yayasan Rumsram selaku Mitra dari Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) selaku pengelola dana kemitraan PTFI melaksanakan pelatihan fasilitator Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Kampung selama dua hari, mulai Selada (10/2/2026).
Pelatihan ini bagian dari komitmen mewujudkan Kabupaten Mimika menjadi daerah bebas dari perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS) atau Open Defaction Free (ODF) di 2027.
Wakil Ketua Bidang Perencanaan Program YPMAK, Feri Magai Uamang menjelaskan praktik Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di masyarakat, pihaknya masih menghadapi berbagai tantangan.
Menurutnya, isu STBM di Mimika ini merupakan persoalan besar, baik di wilayah pedalaman maupun pesisir. Hal itu disebabkan masyarakat telah hidup ratusan tahun dengan pola hidup yang sudah menjadi kebiasaan turun-temurun, termasuk kebiasaan buang air besar sembarangan.
Sementara itu, Mengubah perilaku ini tentu membutuhkan waktu yang panjang tidak bisa instan. Oleh karena itu, kolaborasi lintas sektor sangat diperlukan agar permasalahan tersebut dapat diminimalisir secara bertahap.
"Untuk mengubah kebiasaan-kebiasaan itu memang membutuhkan waktu yang cukup lama. Kami bisa masuk dengan berbagai cara metode untuk memberantas itu tetapi pasti membutuhkan waktu yang cukup panjang," ujar Feri.
Kabupaten Mimika memiliki wilayah pesisir dan pedalaman yang masih tergolong tertinggal. Dengan keterbatasan sumber daya, Feri mengatakan, pihaknya hanya bisa masuk di wilayah-wilayah intervensi tertentu. Ke depan, ia berharap kerja sama lebih luas dengan pemerintah daerah melalui MoU agar jangkauan program ini semakin luas.
Menurut Feri, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap STBM akan berdampak langsung pada penurunan angka penyakit, seperti diare, yang selama ini banyak dialami masyarakat di wilayah pedalaman.
Adapun Yayasan Rumsram telah bermitra dengan YPMAK dan menjalankan program STBM sejak 2024. Feri mengungkapkan kerjasama tersebut akan diperpanjang dua tahun ke depan. Ia berharap, pengalaman Yayasan Rumsram selama ini menjadi modal penting dalam menentukan pendekatan yang tepat sesuai dengan karakter dan budaya masyarakat di wilayah sasaran.
"Saya pikir selama satu tahun teman-teman bertugas, banyak hal yang sudah teman-teman dapatkan. Berkaitan dengan cara hidup masyarakat, cara berpikir, dan perilaku mereka. Tentu Bapak, Ibu punya pengalaman yang cukup untuk menengukan kira-kira kita masuk menggunakan cara apa," tambahnya.
Direktur Yayasan Rumsram, Ishak Matarihi mengatakan, program STBM merupakan program Kementerian Kesehatah terdiri lima pilar yakni stop BABS (ODF), cuci tangan pakai sabun (CTPS), pengelolaan air minum/makanan rumah tangga (PAMM-RT) pengelolaan sampah, dan limbah cair RT.
Namun, upaya untuk mewujudkan percepatan akses sanitasi dasar kemandirian kampung sehat melalui program STBM seringkali mengalami tantangan dan hambatan. Oleh karena itu, Ishak mengharapkan peran aktif semua pihak baik pemerintah, swasta maupun masyarakat.
Ia mengatakan, di 2026 dari 18 kampung yang menjadi wilayah intervensi program STBM, lima kampung telah dipersiapkan menjadi kampung bebas ODF, yaitu Kampung Ohtya di Distrik Mimika Timur Jauh, Kampung Amungun dan Kampung Emkomahalama Distrik Agimuga, Kampung Aikawapuka dan Kampung Mioko Distrik Mimika Tengah.
"Target kami, 2027 Mimika sudah bebas dari perilaku buang air besar sembarangan, belum pilar yang lain. Hari ini kita diskusikan dengan melibatkan pemerintah daerah bagaimana melaksanakannya," pungkasnya. (Martha)