Kekeringan Mulai Cekik Pesisir Mimika, Warga Amar Keluhkan Krisis Air Bersih
Kapolsek Mimika Barat Ipda Muhammad Yani. Foto: Eka/Papua60detik
Kapolsek Mimika Barat Ipda Muhammad Yani. Foto: Eka/Papua60detik

Papua60detik — Musim kemarau mulai berdampak di wilayah pesisir Kabupaten Mimika. Sejumlah kampung mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih, bahkan aparat keamanan harus mencari sumber air ke wilayah lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kapolsek Mimika Barat Ipda Muhammad Yani mengatakan, dampak kekeringan mulai dirasakan di sejumlah wilayah hukum Polsek Mimika Barat, termasuk Kokonao dan Kapiraya. 

Menurut Yani, kondisi tersebut bahkan sudah terasa sejak peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2026. Saat itu, personel yang bertugas di Distrik Amar terpaksa mengambil air dari Kokonao, Distrik Mimika Barat, untuk memenuhi kebutuhan selama kegiatan berlangsung.

"Mereka juga ambil air buat mandi, artinya (kekeringan) sudah ada dampaknya," ungkap Yani saat ditemui wartawan di Mapolres Mimika, Senin (24/8/2026).

Ia mengimbau masyarakat mulai mengantisipasi dampak kemarau dengan mencari dan memanfaatkan sumber-sumber mata air yang masih tersedia.

Yani juga telah meminta anggotanya yang bertugas di Kapiraya untuk mengecek keberadaan sumber mata air. Sebab, menurutnya, debit air sungai di wilayah tersebut mulai mengalami penurunan.

"Saya arahkan juga kepada anggota saya yang di Kapiraya untuk melihat mata air yang di sana ada atau tidak. Kalau tidak ada berarti dampak kemarau sudah terjadi, bahkan air kali juga semakin menipis di Kapiraya," jelasnya.

Warga Andalkan Air Hujan

Kondisi serupa dirasakan masyarakat di Kokonao. Untuk sementara, warga masih mengandalkan air hujan yang ditampung menggunakan bak sebagai sumber kebutuhan sehari-hari.

Yani mengatakan, penampungan air hujan yang tersedia juga dimanfaatkan bersama oleh masyarakat. Bahkan, sejumlah warga datang untuk meminta air ketika persediaan mulai terbatas.

"Saya sampaikan juga agar digunakan serta dibagi. Kami juga ada kolam tadah hujan, itu banyak masyarakat yang minta air juga," katanya.

Selain air hujan, masyarakat pesisir masih memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari, meski debit air mulai berkurang akibat kemarau.

Warga Amar Mulai Keluhkan Air Minum

Sementara itu, Kepala Kampung Manoware, Distrik Amar, Amandus Timakopea, mengatakan persoalan air minum mulai dikeluhkan warga sejak beberapa hari terakhir.

Ia menyebut, per Minggu (23/8/2026), warga Kampung Manoware bersama dua kampung lainnya kembali menghadapi kesulitan memperoleh air minum akibat musim kemarau.

"Terpaksa warga Distrik Amar, yakni Kampung Manoware dengan dua kampung lain kembali mengeluhkan air minum lagi. Kita kembali ke awal (kebiasaan adat), cari minyak (BBM) sekitar 20 liter untuk timba air di sungai atau kali," ungkap Amandus.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat warga harus mengeluarkan biaya tambahan hanya untuk mendapatkan air bersih. Warga bahkan harus menggunakan BBM untuk mengambil air dari sungai atau kali yang masih dapat dimanfaatkan.

Amandus pun meminta Pemerintah Kabupaten Mimika segera turun tangan mengecek kondisi sumber air sekaligus fasilitas air minum yang sebelumnya telah dibangun di wilayah Amar.

Ia berharap fasilitas tersebut dapat kembali dimanfaatkan sehingga masyarakat tidak terus bergantung pada air sungai maupun air hujan selama musim kemarau.

Kekeringan yang mulai dirasakan di wilayah pesisir ini menjadi perhatian serius karena air merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Jika kemarau berkepanjangan, keterbatasan sumber air dikhawatirkan semakin meluas dan menyulitkan warga di sejumlah kampung. (Eka)