Kepsek dan Guru SD Inauga Saling Tuding
Ilustrasi pertengkaran
Ilustrasi pertengkaran

Papua60detik - Sejumlah mantan guru yang mengajar di SD Negeri Inauga Sempan, Jalan Budi Utomo Ujung berunjuk rasa, Senin (13/9/2021)

Mereka mendesak Diana Domakubun selaku Kepala Sekolah agar segera ditarik kembali ke Dinas Pendidikan.

Selain itu, para guru juga menuntut hak-hak yang menurut mereka ditahan oleh Dinas Pendidikan.

Dalam press release yang diterima Papua60detik, terungkap, sejumlah guru bekerja dengan ketidaknyamanan lantaran Kepsek menggunakan kekuasaan kepemimpinan  menindas dewan guru.

"Otoriter, arogannya semakin hari semakin tidak terkendalikan. Perdebatan, perkelahian adu mulut setiap hari terjadi di sekolah, tidak nyaman yang dirasakan dewan guru tak terkendalikan atas sifat dan tingkah laku Diana Domakubun berlangsung setiap hari," kata salah satu guru, Maria Yoke Irijanan dalam rilis tersebut.

Atas situasi itu, para guru memutuskan menemui Kepala Dinas Pendidikan untuk mencari solusi damai pada 6 Maret lalu.

"Namun nasihat dan teguran dari Kepala Dinas itu tidak ada artinya dan tidak dihiraukan," ujarnya.

Selain itu, kata Maria, diduga ada penggunaan dana BOS / BOBDA yang  tidak maksimal dan tidak tepat sasaran 

"Diana Domakubun SPd harus transparan terhadap penggunaan dana BOS dan BOBDA. Selama kurang lebih 6 bulan menjabat tidak pernah memberikan uang pulsa paket data untuk guru tentang pengalian penggunaan dana BOS salah satunya untuk keperluan pendidik/ siswa dalam rangka belajar mengajar online," ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Diana Domakubun, Kepala Sekolah SD Negeri Inauga mengatakan, Maria Yoke sudah berstatus mantan guru. Ia sudah dipindahtugaskan.

Selama bertugas, katanya, Maria Yoke pernah meminta pencarian dana bos untuk dibagi 20 persen, mengingat ia adalah pendiri sekolah SD Negeri Inauga.

Ia mengungkap, sejak menjabat sebagai Kepsek, ia tidak menemukan daftar hadir guru maupun absen siswa.

"Mereka tidak punya absen siswa. Mereka (guru) tidak punya bahkan ada guru yang tidak kenal siswa siapa anak didiknya daftar pada amburadul. Tidak hanya itu daftar Dapodik saja hancur. Bahkan murid tidak pernah diberikan tugas," ujarnya saat ditemui Papua60detik di Mapolsek Miru.

"Mereka seakan tidak mau terima supaya jangan saya yang  menjadi kepala sekolah di sini karena mereka sudah dengar bahwa saya ini pemimpin yang disiplin sejak menjabat di Mandiri Jaya," ujarnya menambahkan.

Ia mengatakan, kerap menegur para guru atas kondisi yang memprihatinkan itu. Namun tak ada perubahan.

"Saya anggap masalah ini sudah selesai tapi karena yang bersangkutan ini tidak mau dipindahkan ke sekolah lain akhirnya dia setiap kali datang dan buat masalah ini sampai dia pada robek daftar hadir guru," ujarnya. (Salmawati Bakri)