Keuskupan Timika Kirim Bantuan Sembako ke Pengungsi di Bilogai
Papua60detik - Gereja Katolik Keuskupan Timika mulai mengirimkan sembako bagi para pengungsi di Gereja dan Pastoran Paroki Bilogai, Kabupaten Intan Jaya.
Keuskupan Timika mengirimkan perdana sebanyak 1.210 kg atau 1,2 ton sembako menggunakan maskapai Alda Air yang disewa pada Selasa (23/02/2021).
“Sembako yang kami kirim hari ini terdiri dari beras, mie instan, gula, kopi dan bahan makanan lain. Seharusnya bisa sampai 1,3 ton yang bisa diangkut namun pastor Rinto Dumatubun akan ikut untuk memastikan sembako ini bisa sampai ke tempat tujuan maka muatan kami kurangi,” Ketua Pengembangan Sumber Daya Ekonomi (PSE) Keuskupan Timika, Beni Meo.
Pengiriman bantuan berikutnya segera menyusul. Beni mengatakan, sembako yang saat ini masih ditampung di gudang Koperasi Maria Bintang Laut akan dikirim dalam empat kali penerbangan lagi.
Direktur Sekretariat Keadilan dan Perdamaian (SKP) Keuskupan Timika, Saul Wanimbo, menyebut, warga yang saat ini mengungsi di kompleks Paroki Bilogai, Kabupaten Intan Jaya sebanyak seribuan jiwa lebih. Sebagian adalah anak-anak.
“Memang sebagian ada yang pulang ke kampung namun kembali lagi untuk berlindung di kompleks Paroki Bilogai karena situasi keamanan belum kondusif,” ujarnya.
Saul mengungkapkan, warga Intan Jaya memilih mengungsi sejak pertengahan 2020 lalu. Mereka memilih mengungsi ke sejumlah kabupaten tetangga seperti ke Nabire dan Paniai termasuk di Timika.
Namun Saul mengakui keuskupan belum bisa mengidentifikasi warga Intan Jaya yang mengungsi ke Timika. Sementara itu warga yang mengungsi di Paniai diduga sudah pindah ke Nabire.
Untuk itu kata Saul, aksi pegumpulan bantuan ini bukan saja difokuskan kepada warga Intan Jaya yang mengungsi di Paroki Bilogai tetapi juga yang saat ini ada di Nabire dan menumpang di rumah keluarga atau kerabat. Sementara itu pihak keuskupan berharap ketua-ketua Kombas di Paniai dan Timika bisa berinisiatif mendeteksi pengungsi warga Intan Jaya yang berada di wilayahnya.
“Kita tahu di kota beban hidup cukup berat, sehingga keuskupan berpikir baiklah kalau paroki-paroki yang lain membantu warga yang mengungsi lebih dulu ke Nabire dan Paniai. Ini akan menjadi tugas tim pastoral Keuskupan Timika yang ada di Nabire dan Paniai untuk mengkoordinir sumbangan yang masuk agar bisa disalurkan kepada mereka. Jika ada kelebihan baru mereka kirimkan ke Bilogai. Gereja dan pastoran Bilogai saat ini menjadi posko untuk menampung bantuan yang masuk bagi para pengungsi,” kata Saul.
Warga mengungsi karena semakin memanasnya konflik bersenjata antara TNI-Polri dengan TPNPB-OPM di Intan Jaya.
Dalam situasi Intan Jaya saat ini kata Saul, mustahil bagi masyarakat untuk berkebun, karenanya keuskupan masih tetap mengharapkan kerelaan semua pihak membantu meringankan beban dari masyarakat Intan Jaya di tempat pengungsian dengan memberikan sumbangan baik berupa uang tunai maupun sembako.
Pada Sabtu (14/02/2021) lalu, Administrator Diosesan Keuskupan Timika, Pastor Marthen Kuayo Pr mengeluarkan surat permohonan bantuan ke paroki-paroki di wilayah Keuskupan Timika.
Surat itu meminta partsipasi dan dukungan serta solidaritas umat Katolik membantu para warga yang mengungsi di Gereja dan Pastoran Paroki Santo Misael Bilogai dan juga pengungsi warga Intan Jaya yang sementara ditampung di paroki Santo Antonius Bumiwonorejo.
Sembako yang dikirim yang dikirim perdana ini merupakan sumbangan dari berbagai kalangan baik dalam bentuk uang tunai maupun sembako.
“Sumbangan dari umat Paroki Katedral Tiga Raja, Paroki Sempan, Kuasi Paroki St Sesilia SP2, Paroki SP3, umat katolik di SP1, para guru dan murid SMA YPPK Tiga Raja. Ada dari berbagai kelompok seperti kelompok Karismatik Keuskupan Jayapura, karyawan PT Freeport Indonesia, Konferensi Wali Gereja Indonesia, Keuskupan Jayapura,” kata Administrator SKP Keuskupan Timika, Rudolf Kambayong. (Burhan)