Kristina Rejang: Tentang Perempuan & Literasi
Papua60detik - Dunia literasi tampaknya tak bisa jauh dari hidup perempuan ini, Kristina Novita Rejang. Dia lulusan Teknik Pertambangan dari Universitas Sains dan Teknologi, Jayapura.
Tamat kuliah, ia jadi seorang guru teknik pertambangan di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan. Profesi yang mengurusi literasi.
Lalu bagaimana dia jadi jurnalis seperti saat ini? Begini ceritanya. Suatu pagi, dia bertugas menjadi guru piket. Kristin mengawasi anak-anak sambil membaca koran di meja. Perempuan yang menyukai tangangan ini tiba-tiba merasa tergugah mencoba hal baru, memasuki dunia jurnalistik.
"Sebelumnya memang saya pernah mengikuti workshop tentang bagaimana menjadi seorang jurnalis. Yang paling saya ingat itu diajari bagaimana cara menulis," kenang Kristin di momen peringatan International Women's Day, Jumat (8/3/2024).
Benar saja, bagai gayung bersambut, saat Kristin melamar ke salah satu media dengan modal coba-coba, dia akhirnya diterima. Waktu itu tahun 2017, dan menjadi tahun di mana Kristin menemukan sesuatu yang baru dalam dirinya. Sesuatu kenyamanan dan rasa cinta ketika mengerjakan pekerjaan tersebut.
"Saya senang bisa meliput. Dulu itu saya di pos-kan di berbagai tempat, kadang di ekonomi, di pendidikan, politik, kriminal, kesehatan. Wah, pokoknya banyak pengalaman baru dan yang terpenting saya jatuh cinta dengan profesi ini," katanya.
Hampir tiga tahun jadi jurnalis Kristin memutuskan menikah dengan seorang laki-laki bernama Edwin Rumanasen. Kelahiran anak pertama membuatnya harus pandai-pandai mengatur waktu. Bagaimana tidak, meliput di lapangan tidak ada jam kerjanya, bahkan pernah pulang jelang subuh.
"Dukungan suami terhadap karir saya, sangat luar biasa. Dia yang menggagas buat media sendiri, supaya saya bisa menulis sesuai keinginan hati tanpa ada tekanan dari pihak lain," ucap Kristin sambil tertawa.
Saat ini, Kristin sedang mengembangkan media sendiri. Namanya, sasagupapua.com. Isinya berita-berita inspiratif.
"Ini akan menjadi wadah yang mendukung saya untuk terus menulis. Walaupun saya sudah punya anak, tapi dalam diri saya ini, saya masih ingin bermanfaat bagi masyarakat melalui tulisan," terang Kristin penuh harap.
Kristin membagikan quotes yang menjadi inspirasinya untuk terus menulis, "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah". Itu salah satu quotes dari seorang pengarang produktif dalam sejarah sastra Indonesia, Pramoedya Ananta toer.
Sebagai perempuan, Kristin menyampaikan harapan dan dukungan terhadap kaum perempuan yang saat ini sedang menjalankan profesi di luar urusan rumah tangga.
"D hari yang spesial ini (International Women's Day) saya mau katakan kepada teman-teman perempuan bahwa perempuan itu hebat. Kita bisa bekerja sesuai profesi tanpa meninggalkan tanggung jawab kita sebagai ibu rumah tangga," tutupnya. (Martha)