Lebih Dekat dengan Abraham Kateyau, Putra Kamoro Penerima Beasiswa YPMAK
Pj Sekda Mimika, Abraham Kateyau, foto: Martha/ Papua60detik
Pj Sekda Mimika, Abraham Kateyau, foto: Martha/ Papua60detik

Papua60detik - Pj Sekda Mimika, Abraham Kateyau adalah sosok menginspirasi lewat perjalanan hidupnya. Putra asli suku Kamoro ini merupakan salah satu penerima beasiswa Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) saat menyelesaikan pendidikan S1. 

"Bukan jalan mudah bisa sampai di titik ini". Begitulah kata Sekda ketika mengisahkan perjalanan hidupnya.

Abraham lahir pada 13 April 1972 dari pasangan Paulus Kateyau dan Henrika. Ia menempuh pendidikan dasar di Kekwa, melanjutkan SMP di Kokonao (1989), dan SMA Katolik Adi Luhur di Nabire. 

Pendidikannya penuh lika-liku, mulai dari meninggalkan orang tua, pernah diberangkatkan hanya berbekal Rp14 ribu rupiah dengan pesan kembali setelah lulus. Tantangan semakin terasa di SMA, saat menginjak kelas sebelas, Abraham Kateyau sempat berhenti terkendala oleh biaya. Ia bekerja sebagai buruh kasar (TKBM) di Pelabuhan Sorong hingga ke Pulau Seram.

Namun, tekadnya menyelesaian pendidikan selalu mengganggu pikirannya. Akhirnya, ia kembali ke Nabire melanjutkan sekolah. Waktu itu, harusnya ia mengulang di kelas dua, tetapi karena ia termasuk siswa berprestasi, kepala sekolah langsung menyuruhnya naik ke kelas tiga. 

"Saya hanya punya satu tekad, harus selesai. Saya kembali ke Nabire dan bersyukur sekali, ketika kembali ke sana, kepala sekolah langsung pindahkan saya ke kelas tiga,  padahal aturannya saya mengulang di kelas dua. Itu memang karena saya rangking satu terus. Itulah perjalanan hidup, harus selesai, sehingga hari ini saya ada di sini. Mudah-mudahan ke depan jauh lebih  baik lagi," kenang Abraham. 

Tamat SMA, Abraham melanjutkan pendidikan D3 Olahraga di Universitas Cenderawasih (Uncen), sebelum beralih ke STIE Ogie Setia Jayapura jurusan Ekonomi dibiayai oleh YPMAK. Abraham pun tidak pernah melupakan peran YPMAK dan PT Freeport Indonesia (PTFI) dalam perjalanan pendidikannya.

Ia menuturkan, menyelesaikan pendidikan S1 bagi orang Kamoro pada masa itu bukan hal mudah. Namun, berkat beasiswa YPMAK, ia berhasil menamatkan studi di S1-nya.

“Saya adalah salah satu bagian dari program penerima manfaat dari PTFI melalui beasiswa YPMAK. Saya bersyukur kepada Tuhan, orang tua, dan PTFI. Kalau tidak ada mereka, kami tidak tahu seperti apa kami sekarang,” ujarnya.

Abraham mengenang masa-masa sebagai penerima beasiswa YPMAK dengan penuh rasa syukur. Bantuan biaya pendidikan dan uang bulanan berjalan lancar. Para mahasiswa rutin dikumpulkan untuk pembinaan, membangun persahabatan dan kekeluargaan. Ia bahkan pernah terpilih sebagai Ketua Ikatan Mahasiswa Kamoro di Jayapura.

Menurutnya, program beasiswa YPMAK selaku pengelola dana kemitraan PTFI, saat ini jauh lebih baik dan harus dimanfaatkan generasi muda.

"Ketika dunia pendidikan semakin mahal, YPMAK ini hadir memberikan jawaban. Jadi sudah terlalu banyak yang diberikan PTFI melalui YPMAK. Beasiswa ini harap digunakan baik-baik oleh adik-adik, jangan sampai di DO. Tidak semua orang mendapatkan dukungan pendidikan," pesan Abraham. 

Setelah lika-liku pendidikannya, saat itu, peluang terbuka lebar bagi putra daerah berpendidikan sarjana. Tanpa melalui tes, Abraham langsung dipanggil bekerja di PTFI dan menandatangani kontrak. Ia mendapatkan segala fasilitas terbaik di sana. Beberapa bulan kemudian, Pemerintah Kabupaten Mimika membuka penerimaan pegawai. Lagi-lagi tanpa tes, namanya tercantum dalam SK Bupati. 

Dengan niat pengabdian dan bisa lebih dekat keluarga, Abraham mengajukan surat pengunduran diri dari PTFI. Bahkan waktu itu manajemen PTFI berupaya menahannya. Ia bahkan ditawari posisi kerja di New Orleans, Amerika Serikat, lengkap dengan rumah dan berbagai fasilitas. 

"Waktu itu saya sebagai staf. Saya dikasih waktu selama dua minggu, malah saya ditawarkan kerja di Nola, di Amerika, ditawari rumah dan segala macam oleh PTFI. Saya memilih mengabdi kepada masyarakat melalui pemerintah. Akhirnya memutuskan mengundurkan diri dari PTFI," terangnya. 

Karier birokrasi Abraham dimulai sebagai staf di Dinas Sosial pada 2001. Sebelum dipercaya menjadi Pj Sekda, ia beberapa kali mengalami pergantian jabatan, mulai dari kepala bidang, Kabag Ortal, kepala seksi kelembagaan di DPMK, Kepala Diskominfo, kepala DPMPTSP dan kepala DPMK (hingga sekarang).  Bahkan Ia pernah dipercaya menjadi Kepala Distrik Mimika Timur Jauh pada tahun 2013.

Sebagai Pj Sekda pertama dari suku Kamoro, Abraham mengingatkan generasi muda termasuk yang sudah ASN menggunakan kesempatan dengan baik. Seperti di pemerintahan, ada sistem dan proses yang harus dilalui untuk menduduki suatu jabatan, mulai dari disiplin hingga mengikuti segala aturan.

"Ketika kita keluar dari sistem maka kita akan terkendala. Menduduki jabatan itu ada prosesnya. Pimpinan memperhatikan itu mulai dari kedisplinan. Kita tidak boleh meminta orang lain untuk mendorong dan membantu kita, harus kita mulai dari diri sendiri. Ketika kita sudah siap, campur tangan Tuhan pasti ada lewat orang lain, itu kuncinya," tambahnya. 

Namun, semua pencapaian yang menjadikan seorang Abraham Kateyau bisa di titik sekarang ini, peran keluarga sangatlah penting. Terutama istrinya, Bernadeta Natalia yang selalu setia mendampingi bahkan ketika Ia menempuh pendidikan di luar daerah. Mereka dikaruniai enam anak, tiga putra dan tiga putri.

Ia mengapreasiasi PTFI yang terus mendukung putra putri daerah di bidang pendidikan. Ia berharap kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Mimika dan YPMAK terus diperkuat. Menuritnya, saat ini ada beberapa hal yang masih dalam tahap perencanaan. (Martha)