MBG Sudah Jalan, Produk Petani Lokal Tak Dipakai?
Papua60detik - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sudah mulai dijalankan di Kabupaten Mimika. Beberapa sekolah sudah mendapatkan program nasional ini.
Adapun program nasional ini menggunakan APBN. Dengan anggaran yang besar, harusnya penyelenggaraan MBG bisa mendukung perekonomian masyarakat dengan pemanfaatan pangan lokal serta menyerap hasil panen para petani sebagai bahan baku.
Baca Juga: Dorong Ekonomi Lokal, Kadin Papua Tengah Bakal Gelar Talkshow & Ramah Tamah Bersama Pelaku Usaha
Di Mimika sendiri, masih banyak petani yang mengeluh karena belum menemukan wadah untuk menjual hasil panen dengan harga sesuai. Kebanyakan petani masih menjual hasil panen ke tengkulak dengan harga rendah, jauh dari harga beli masyarakat di pasar.
Dengan MBG, para petani berharap penyelenggara bisa menyerap hasil panen untuk memenuhi bahan baku dapur MBG. Tentu ini sangat efektif dan saling menguntungkan. Selain memberi dampak ke siswa penerima manfaat, petani juga ikut merasakan dampak dari program ini.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Mimika, Yulius Koga berpendapat bahwa program ini bagus apalagi kalau bisa melibatkan dinas-dinas terkait untuk menjangkau para petani.
Namun, hingga sekarang DKP belum diajak terlibat untuk program tersebut. Ini sungguh disayangkan, karena program ini bisa menjadi peluang bagi DKP untuk menyerap hasil panen para petani dan disalurkan ke dapur MBG.
"Kalau teman-teman yang dipercayakan minta kita kerja sama, bisa. Tetapi sejauh ini belum ada. Sampai sejauh ini saya belum tahu apa yang mereka olah ini, ambil dari mana, beli dari mana, kami tidak tahu," ujar Yulius saat diwawancarai.
Meskipun begitu, Yulius tetap mendukung program nasional tersebut, dan tetap terbuka apabila ada tim penyelenggara yang ingin melibatkan mereka. Menurutnya, program itu pasti mempunyai Petunjuk Teknis (Juknis) yang bisa dipelajari.
Ia menyebut, seandainya dari awal ada ajakan kerja sama, ia akan menyarankan agar dalam program tersebut minimal sekali seminggu menu makannya adalah pangan lokal yang bahan bakunya dari sagu maupun ubi.
"Kalau ada (kerja sama), kan, kita bisa cari ke mana-mana, kita bisa manfaatkan mama-mama yang biasa jualan. Kita bisa pelajari Juknisnya. Kalau memang minta kita kerja sama, kenapa tidak dari awal?" pungkasnya. (Martha)