Memoria Passionis: Upaya Memahami Siklus Kekerasan di Papua
Papua60detik - Peneliti Pusat Riset Politik Badan Riset & Inovasi Nasional (BRIN), Yogi Setya Permana memaparkan hasil risetnya pada refleksi akhir tahun organisasi riset ilmu pengetahuan sosial dan humaniora di Jakarta, Jumat 20 Desember.
Risetnya bersama Cahyo Pamungkas tersebut telah terbit di Jurnal Pacific Affairs University of British Columbia dengan judul, 'The Role of Fear and Memory in West Papua's Ethnonationalist Conflict'.
Yogi menjelaskan, di kancah akademik setidaknya ada tiga pendekatan yang menjelaskan siklus kekerasan di Papua. Pertama perspektif instrumentalis, yang melihat kekerasan dijadikan alat untuk meraih kepentingan politik dan ekonomi. Kedua non instrumental, terkait ideologi merdeka yang sudah begitu mengakar di Papua. Ketiga karena kegagalan pembangunan.
Risetnya menyodorkan pendekatan baru, aspek emosi. Melalui metode kualitatif, riset ini menemukan, yang disebutnya memoria passionis sebagai salah satu faktor utama yang bikin sulit memutus siklus kekerasan di Papua.
"Memoria passionis di sini artinya bahwa ada ingatan akan penderitaan, ingatan akan kekerasan yang itu dirawat terus menerus dan ditransferkan over generation. Jadi jika yang mengalami itu keluarga di tahun 70-an, 80-an, mereka akan terus menceritakan apa yang mereka alami," jelasnya seperti dikutip dari Chanel YouTube BRIN.
Cerita-cerita demikian diceritakan dalam situasi keseharian, seperti makan malam.di honai, dilantunkan sebagai dongeng sebelum tidur.
Transfer memori penderitaan ini yang membentuk perasaan keterancaman rakyat Papua. Yogi mengatakan, perasaan demikian terutama di daerah pegunungan Papua. Perasaan inilah yang membuat rakyat Papua bisa membentuk kemarahan bersama.
"Jadi proses transmisi ingatan penderitaan itulah yang membuat kemarahan itu tetap terawat," katanya.
Tapi di sisi lain, aparat keamanan pemerintah Indonesia di Papua juga punya perasaan keterancaman yang sama, tapi lebih bersifat struktural yakni berpisahnya Papua dari NKRI.
"Perasaan keterancaman ini membuat pihak-pihak yang berkonflik susah untuk bertemu, susah untuk memiliki prejudice yang baik karena masing-masing pihak sudah tertanam stereotipe yang vis a vis atau bertentangan," jelasnya.
Menariknya, kata Yogi, cerita-cerita memoria passionis ini tidak lagi hanya bertumpu pada metode konvensional, tapi sudah ditransmisikan lewat media baru seperti film. Platform seperti YouTube digunakan untuk mengartikulasikan cerita-cerita kenangan penderitaan korban kekerasan aparat pemerintah.
Katanya, hasil riset ini mengamplifikasi pesan bahwa pendekatan bersenjata tidak efektif menangani kasus Papua karena berurusan dengan ingatan. Dialog dan saling berbicara kata Yogi, meskipun melelahkan, jauh lebih efektif dibanding pendekatan bersenjata.
"Oleh karena itu lewat studi ini, kami juga mengamplifikasi pesan bahwa penting untuk tetap mengupayakan dialog seperti yang selalu kita dengungkan. Seperti yang dikatakan Prof Muridan almarhum, bahwa dialog tidak akan membunuh siapapun," tutup Yogi. (Burhan)