Metode Pembelajaran Montessori Dianggap Paling Cocok untuk Siswa SATP
pembelajaran metode montessori untuk siswa kelas 1 dan 2 di SATP, foto: Martha/ Papua60detik
pembelajaran metode montessori untuk siswa kelas 1 dan 2 di SATP, foto: Martha/ Papua60detik

Papua60detik - Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP) milik Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme Kamoro (YPMAK), selaku pengelola dana kemitraan PTFI, memiliki sejumlah program unggulan. Salah satunya adalah pembelajaran metode montessori untuk siswa kelas 1 dan 2 yang mulai diterapkan sejak Juli 2024.

Untuk mendukung program ini, tersedia 14 guru yang mengajar untuk 7 kelas. Di mana dalam satu kelas terdiri dari 24 sampai 27 siswa. Sebelumnya, program ini masih bersifat pendamping di kelas reguler, tetapi kini sudah diterapkan secara utuh dari pagi hingga siang.

Kepala SATP,  Sonianto Kuddi mengatakan penerapan ini dilakukan setelah melalui kajian panjang terhadap karakteristik anak-anak asli Papua yang menjadi peserta didik.

Siswa SATP merupakan anak-anak asli dari wilayah pegunungan dan pesisir yang memiliki latar belakang budaya yang beragam, tetapi umumnya dikenal aktif, motorik kinestetik yang kuat, dan terbiasa beraktivitas di luar ruangan. 

Melalui pendekatan montessori, proses belajar berbasis praktik atau learning by doing. Guru terlebih dahulu memperagakan cara menggunakan alat peraga (aparatus), kemudian siswa memilih aktivitas yang diminati dan mengerjakannya secara mandiri hingga selesai. 

"Anak-anak ini tidak bisa kita kurung dalam satu kelas. Sehingga model montessori adalah yang paling cocok untuk karakteristik anak-anak kelas 1 SD, terutama juga karena anak-anak kami di sini sebagian besar itu tidak mengikuti TK sebelum masuk ke SD," ujar Sonianto Kuddi saat diwawancarai, Senin (16/02/2025). 

Sonianto menyebut, model ini tidak menekankan standar seragam yang harus dicapai semua siswa dalam waktu bersamaan. Anak yang mampu belajar cepat dapat melaju lebih cepat, sementara yang membutuhkan waktu lebih lama tetap didampingi sesuai kemampuan masing-masing. 

"Hafalan itu sangat tidak disarankan, pembelajaran itu harus berpusat pada anak. Sehingga apa kelebihan anak, apa yang harus dibangun, itu guru harus tahu. Sehingga kita sesuaikan dengan mereka punya karakteristik, budaya, latar belakang dan kita gabungkan dengan materi pembelajaran, itu akan lebih bermakna," terangnya. 

Sementara itu, Kepala Program Montessori Theodora K  Yanti menyebut, hasil dari program ini bisa dilihat pada penampilan siswa di tanggal 14 Februari lalu, anak-anak yang baru mengikuti program selama empat bulan sudah menunjukkan kemampuan baca, tulis, dan hitung secara konkret.

Program ini juga mengintegrasikan penguatan bahasa lisan melalui kegiatan bercerita, bernyanyi, komunikasi aktif, dan eksplorasi lingkungan. Banyak kosakata sederhana yang sebelumnya belum dikenal siswa kini dipahami melalui pengalaman langsung dalam keseharian sekolah.

"Jadi gurunya membacakan cerita, nanti yang bisa baca cerita mereka juga boleh. Hal-hal yang sifatnya komunitas, satu kelompok itu yang dipakai untuk mereka, ada orang bicara mereka dengarkan lalu respon yang benar dan tenang. Jadi yang diminta dari anak-anak ini tenang. Kalau misalnya masuk kelas, anak-anak itu tidak teriak-teriak," kata Theodora. 

Ia menegaskan, tujuan utama penerapan.metode montessori bukan sekadar pencapaian akademik, melainkan memastikan setiap anak berkembang sesuai prosesnya tanpa merasa tertinggal. Anak-anak yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, akan diajak belajar dengan alat bantu ajar yang diletakkan sesuai jangkauan anak untuk memungkinkan anak belajar kolaborasi, berbagi, dan saling membantu.

"Yang paling kelihatan indikatornya adalah mental mereka. Mental untuk mandiri, percaya diri  Montessori itu tidak bisa dilepaskan dari hal-hal yang sifatnya membangun karakterm kalau mereka pilih sendiri, belajar sendiri, bisa sendiri yang bangga mereka sendiri, tidak usah harus tunggu gurunya kasih nilai dulu," pungkasnya. (Martha)