Omzet Turun, Pedagang Tuding Pasar Murah Sebagai Biang Kerok
Papua60detik - Penjual sayur di Pasar Sentral Timika (Pasar baru) mengeluh dagangannya sepi. Padahal biasanya, jelang perayaan hari besar atau akhir tahun kebutuhan masyarakat terhadap sayur cukup tinggi.
Ecce' Pairin pedagang sayur di pasar sisi selatan mengeluh, dari pagi katanya pembeli di pasar jarang terlihat. Hanya beberapa pengunjung yang mampir berbelanja di lapaknya.
Baca Juga: Bakal Diresmikan Menkop, Koperasi Merah Putih di Atuka Diproyeksi Jadi Penggerak Ekonomi Lokal
"Sepi, barang-barang juga semuanya mahal tidak ada yang murah," ujar dia saat ditemui di lapaknya, Rabu (18/12/2024).
Ia merincikan, saat ini harga seperti tomat berada di kisaran Rp35 ribu, bawang merah dan bawang putih Rp60 ribu padahal empat hari lalu masih di kisaran Rp40 ribu.
"Sudah satu minggu seperti ini (sepi). Kenaikan harga juga sudah empat hari yang lalu," katanya.
Sementara cabai rawit berada di kisaran Rp80 ribu, sayur kol Rp25, kentang dan wortel Rp25, daun bawang mencapai Rp100 ribu dari sebelumnya Rp130 ribu.
Untuk cabai besar dan cabai keriting harganya Rp60 ribu, sayur brokoli tembus Rp55 ribu, biasanya Rp35 ribu. Sayur buncis Rp60 ribu, jeruk nipis Rp60 ribu, jeruk ikan Rp60 ribu.
Ia lantas menuding gerakan pangan atau pasar murah sebagai biang kerok di balik sepinya pasar akhir-akhir ini.
"Sepi karena pasar murah, pasar murah berdampak sekali, belum ada pasar murah pendapatan kita bisa dapat sampai Rp5 juta, sekarang paling Rp2 sampai Rp3 juta. Coba lihat ini dari pagi tidak ada orang, karena kalau tidak ada pasar murah otomatis orang akan belanja di sini (pasar)," keluh Ecce'.
Selain sepi, harga-harga komoditi yang dijual mengalami kenaikan karena kurangnya stok akhir tahun padahal permintaan sedang tinggi.
"Ya, kenaikan harga barang gegara kurangnya stok akhir tahun, karena orang berebut semua," ucap dia.
Pemkab Mimika lewat beberapa OPD memang rutin menggelar pasar murah. Biasanya frekuensinya makin sering di jelang hari raya.
Namanya pasar murah, harga yang dijual pasti jauh lebih murah dibanding harga pasar. Pemerintah memberi subsidi. Bisanya, pemerintah bekerja sama dengan distributor, bukan dengan pedagang.
Pemerintah berasalan, pasar murah buat bantu warga dan tekan inflasi daerah. (Eka)